Bismillaahirrahmaanirrahim

Assalaamu’alaykum warahmatullaah wabarakaatuh,
Alhamdulillaah wash-shalatu was-salama ‘ala Rasulillah wa ba’d.

Kami merupakan kumpulan penuntut ilmu dari Indonesia, memaparkan kepada antum pemahaman kami, dengan harapan mendapatkan nasihat dan arahan dalam medan dakwah ila Allah.

Dimana masalahnya adalah sebagian da’i memberikan celaan kepada kami, dengan celaan yang sebenarnya kami berlepas diri dari apa yang mereka tuduhkan. Dan sebab permasalahan dari tuduhan tersebut adalah, karena perbedaan pemahaman antara kami dan mereka atas ucapan dan pendapat para ulama kita.

Maka pada surat ini kami paparkan akidah kami dalam permasalahan ini, mengharapkan nasihat antum.

Dan jika menurut antum kami yang keliru, maka kami mengharapkan agar diluruskan.
Dan Jika menurut antum kami benar, kami mengharapkan persetujuan.

Para penuntut ilmu, dari zaman dahulu, terus menerus memaparkan pemahaman mereka kepada para ulama, agar menjadi jelas mana pendapat yang benar.
Dan kami hanyalah sebagian dari mereka, yang berusaha menapaki jejak mereka.

Berikut merupakan ringkasan atas apa yang kami yakini pada masalah ini, yaitu masalah takfir terhadap ubbadul qubur/penyembah kuburan yang mengaku sebagai orang Islam.

Maka kami katakan:

Sesungguhnya seseorang:
– jika hidup ditengah-tengah kaum muslimin
– dan ada dakwah disitu,
– dan dia bukan orang yang baru masuk Islam
kemudian melakukan kesyirikan kepada Allah dengan perbuatan syirik akbar yang jelas tanpa ada kesamaran, seperti:
– menyembelih untuk kuburan
– atau beristighatsah dengan selain Allah
dan perbuatan itu dilakukan bukan dalam keadaan terpaksa/mukrah, dilakukan atas dasar taklid kepada tokoh-tokoh yang mereka percaya dalam keilmuannya, dari para ulama su’ dan para da’i kesyirikan,

Maka sesungguhnya kami, jika kami melihat hal tersebut dari pelaku kesyirikan itu, atau mendengar tentang dia dari kabar yang benar, maka kami meyakini kekafirannya secara mu’ayyan/tunjuk hidung, sesuai dengan apa yang tampak/dzhahir darinya.

Kami tidak menerima alasan kebodohannya, jika memang dia mengaku bodoh. Karena dengan keadaan yang telah disebutkan diatas, maka dia bukanlah orang yang jahil/bodoh. Tetapi dia adalah orang yang berpaling/mu’ridh, karena hujjah dekat dengan dia.

Maka kami tidak shalat dibelakangnya, tidak makan sembelihannya, tidak kami shalatkan jenazahnya (jika dia mati dalam keadaan belum bertaubat), dan seterusnya dari hukum-hukum orang musyrik di dunia.

Dan walaupun kami menganggap dia sebagai orang kafir, sesuai dengan apa yang tampak/dzhahir-nya, kami tidak melantangkan/mengkoar-koarkan kekafirannya.
Bahkan kami akan berdakwah kepadanya dengan lemah lembut. Dan kami akan berusaha betul dalam menyampaikan al-haq kepadanya.

Kami tidak akan menindaknya dengan tindakan apapun disebabkan kekafirannya, seperti membunuhnya/memeranginya. Dan kami juga tidak menyerukan kepada yang lain untuk melakukan hal tersebut, karena bab penindakan merupakan urusannya ulil amri muslim.

Kemudian, kami ingin memberitahukan antum wahai syaikh bahwa Karena persoalan ini, sebagian ikhwah ada yang masjidnya dirampas dan sebagian lainnya dihalangi dari berdakwah, sehingga timbulah perpecahan antara mereka.

Dan sebab kebenaran itu terhalang pada sebagian mereka adalah mereka menyangka bahwa seorang muslim, selama tidak mengatakan ‘Saya telah kafir atas ajarannya Muhammad’ atau murtad ke agama nasrani, maka dia tidak dikafirkan, walaupun telah menista agama.
Mereka beralasan bahwa belum ada ulama yang memvonis kekafirannya.

Dan sebagian yang lain berkata bahwa barangsiapa yang beribadah kepada selain Allah dalam keadaan berijtihad, dan ternyata dia keliru dalam ijtihadnya, maka dia malah mendapatkan satu pahala atas ijtihadnya dan seterusnya, yang merupakan musibah.

Maka kami berharap dari antum komentar dan nasihat atas apa yang tertulis di kertas ini.

Jazaakumullaahu khayran.

Ditulis oleh,
Abul Mundzir Ja’far Shalih al-Indunisi.

————————————

Jawaban Asy-Syaikh Masy’an bin Zayid Al Haritsy hafidzahullah

Alhamdulillah.
Aku bersaksi tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Allah.
Satu-satunya ilah, tanpa ada sekutu bagi-Nya.
Tidak ada yang semisal dengan-Nya, baik dalam dzat, nama-nama maupun sifat-sifat dan perbuatan-Nya.
“Tidak ada yang semisal dengan-Nya. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat”
Dan saya bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba dan utusan-Nya. ShallAllaahu ‘alayhi wasallam.

Amma ba’du.

Sesungguhnya apa yang telah disebutkan oleh asy-Syaikh Abul-Mundzir Ja’far Shalih al-Indunisi itulah yang benar.
Diatas pemahaman ini lah dan juga yang difatwakan oleh guru besar kami samahatusy-Syaikh ‘Abdul-‘Aziz bin Baaz -rahimahullah-.

Dan kami beragama kepada Allah dengan pemahaman ini.
Kami memperingatkan kaum muslimin dari peribadahan kepada orang-orang yang sudah mati, orang-orang shalih maupun wali-wali.
Hendaknya kaum muslimin mempelajari mana perkara-perkara yang mencocoki Islam.

Dan semoga shalawat dan salam selalu tercurah kepada baginda nabi Muhammad, keluarganya dan para sahabatnya.

Ditulis oleh:

al-Faqir ilaa Allaah
Masy’an bin Zayid al-Haritsi

* Sanad Syaikh Masy’an bin Zaid Al Haritsy kepada Al Imam Al Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah: https://app.box.com/s/xj6yjwohjof34bk9ibhsxc2unea8uvzc

*Rekomendasi Syaikh Masy’an bin Zaid Al Haritsy terhadap pemahaman kami: https://app.box.com/s/agnu668q0fk8xwaaonqwzw2yclr0iota

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *