NASKAH KHUTBAH IEDUL FITRI 1438 H

الحمد لله الذي جعل الحمد مفتاحا لذكره، وسببا للمزيد من فضله، ودليلا على آلائه وعظمته، لا إله إلا هو يحكم ما يشاء ويفعل ما يريد، يفرج الكروب، ويغفر الذنوب، ويستر العيوب، يعلم خائنة الأعين، وما تخفي الصدور وتكنه القلوب.خلق فسوى، وقدر فهدى، نعمه تترى، وفضله لا يحصى، لا معطي لما منع، ولا مانع لما أعطى، وكل شيء عنده بأجل وقدر مسمى،

والصلاة والسلام على عبده ورسوله محمد وعلى آله الطيبين الطاهرين وأزواجه أمهات المؤمنين، وعن جميع الصحابة والتابعين ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar 3x Walillahil Hamd!

Allahu Akbar! Tiada yang lebih besar dari pada-Allah.

Allahu Akbar! Tiada yang lebih agung dan indah daripada agama dan syariat-Nya!

Allahu Akbar! Tiada yang lebih mulia daripada hukum dan aturan-Nya.

Segala puji hanya milik Allah, hanya Dialah yang berhak menerima pujian. Menciptakan hamba-Nya dan memelihara, memerintah dan melarang, memberi petunjuk dan memudahkan jalannya.

ألم نجعل له عينين ولسانا وشفتين وهديناه النجدين؟!

Bukankah telah kami jadikan untuknya dua mata, satu lisan dua bibir, dan kami tunjuki dia dua jalan?!

Dan diantara perintah-Nya adalah ibadah-ibadah yang agung ini;  Puasa yang dijalankan sebulan penuh, tilawah setiap siang dan malam, dan tarawih shalat malam dengan sedekah sembunyi-sembunyi atau terang-terangan sanggup menghadirkan kesyahduan dan kekhusyuan serta kelezatan di dalam hati seolah akhirat hadir di pelupuk mata menyapa siapa saja yang surga tujuannya. Kemudian rangkaian ibadah ini pun ditutup dengan ending yang indah berupa pengagungan kepada Allah Yang Maha Sempurna;

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan agar kalian menyempurnakan bilangan (puasa) dan agar kalian bertakbir membesarkan Allah atas hidayah-Nya kepada kalian, dan agar kalian bersyukur.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar 3x Walillahil Hamd!

Ummat Islam!

Sungguh penistaan terhadap keagungan Islam adalah tindakan yang tidak bisa diterima dari siapa pun. Apabila pelakunya muslim maka dibunuh, dan apabila pelakunya non muslim maka batallah perlindungan Islam terhadapnya.

وَإِن نَّكَثُوا أَيْمَانَهُم مِّن بَعْدِ عَهْدِهِمْ وَطَعَنُوا فِي دِينِكُمْ فَقَاتِلُوا أَئِمَّةَ الْكُفْرِ ۙ إِنَّهُمْ لَا أَيْمَانَ لَهُمْ لَعَلَّهُمْ يَنتَهُونَ

Jika mereka merusak sumpah (janji)nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, agar supaya mereka berhenti. (QS. 9:12)

Al Imam Ibnul Mundzir rahimahullah berkata tentang hukum orang yang menista Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam;

أجمع عوام العلماء على أن من سبه القتل قاله مالك والليث وأحمد وإسحاق والشافعي  وحكي عن النعمان لا يقتل الذمي

Ulama sepakat bahwa hukuman atas penista Rasulullah adalah dibunuh. Ini pendapat Imam Malik, Laits, Ahmad, Ishaq dan Syafi’i. Tapi dihikayatkan dari Imam Abu Hanifah apabila pelakunya seorang ahli dzimmah maka tidak dibunuh.

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata; Dan kesimpulan pendapat ulama dalam perkara ini adalah apabila pelakunya seorang muslim maka dibunuh berdasarkan ijma’. Dan ini pendapat imam-imam yang empat dan selain mereka. Adapun ahli dzimmah maka dibunuh juga menurut Imam Malik dan penduduk Madinah. Dan ini pendapat Imam Ahmad dan fuqaha’ hadits. Muhkhtashar Shaarim Al Maslul (31-32)

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar 3x Walillahil Hamd!

Ummat Islam!

Penistaan terhadap keagungan Islam adalah cara lama yang dipercaya para zindiq dalam menjauhkan ummat ini dari agamanya. Karena kapan seseorang menista agama atau terbiasa dengannya dapat dipastikan akan hilang darinya kepedulian menjalani agama. Agama tidak lagi menjadi suatu yang perlu dihormati, aturan-aturan dan hukum-hukumnya bukan lagi dianggap sebagai suatu yang mengikat. Sehingga menjadi rusaklah hubungan antara hamba dengan Rabnya yang merupakan kontrol utama dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Masyarakat yang seperti ini apabila penistaan-penistaan terus dibiarkan ditengah-tengah mereka tanpa ada penindakan akan menjadi lahan subur bagi tumbuhnya paham anti tuhan dan paham-paham kekufuran lainnya.

Oleh karena itu pada abad-abad pertama kelahiran Islam benih-benih kekufuran seperti ini langsung mendapat penindakan yang tegas dari para shahabat Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam.

1- Dimasa kepemimpinan Ali bin Abi Thalib, saat muncul para zindiq kaum Saba’iyah yang mengklaim Ali sebagai tuhan, mereka dikumpulkan di dalam parit lalu dibakar!

2- Pada kekhalifahan Bani Umayyah dibunuhlah beberapa orang zindiq seperti Abu Manshur Al Ijli yang mengaku sebagai nabi dan menghalalkan yang haram.

3- Sebagaimana dibunuh juga pada masa kekhalifahan Hisyam bin Abdul Malik, Al Mughirah bin Said pimpinan firqah Al Mughiriyah yang juga mengaku nabi dan melakukan sihir. Begitu pula Bayan bin Sam’an pimpinan firqah Al Bayaniyah yang mengaku nabi dan mendaulat Ali sebagai tuhan.

4- Adapun pada masa dinasti Abbasiyah keadaannya semakin menjadi-jadi sampai-sampai khalifah Al Mahdi sengaja menyusun daftar khusus berisikan nama-nama kaum zindiq dan karya-karya mereka untuk dihancurkan. Dibunuh pada masa itu para zindiq diantaranya;  Muhammad bin Said Al Maslub, Abdul Karim bin Abil Auja’, Husain bin Abi Al Mashur Al Ijli

Dan siapa saja yang memperhatikan penistaan-penistaan yang terjadi di republik ini akan tahu bahwa perbuatan-perbuatan keji tersebut tidak terjadi begitu saja tanpa perencanaan melainkan ia merupakan bagian dari konspirasi besar dan makar terhadap ummat dalam mencabut pengagungan mereka kepada agamanya.

Penistaan-penistaan yang keji melalui media sosial yang dibiarkan tanpa sedikitpun penindakan, baik yang kasar maupun yang tampaknya berpendidikan justru mendapat penghargaan, tragisnya orang-orang yang mengingkari mereka dan menuntut penindakan terhadap para penista harus rela mendapat stigma negatif sebagai kaum radikal, intoleran, sumbu pendek, anti NKRI dan seabrek tuduhan lainnya.

Ummat Islam! Ummat Muhammad!

Sudah kewajiban atas ummat ini untuk mengagungkan agamanya. Allah berfirman;

ذلك ومن يعظم شعائر الله فإنها من تقوى القلوب

Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati. (QS. 22:32)

Dan dahulu para shahabat sangat besar pengagungannya kepada Nabi mereka Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Dan kecintaan mereka kepada beliau menjadikan mereka sanggup menebus kehormatan beliau meski dengan jiwa-jiwa mereka.

Diantaranya adalah kisah dua pemuda Anshar pada perang Uhud. Dikisahkan oleh Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu ‘Anhu ketika aku sedang mengamati peperangan tiba-tiba berdiri seorang pemuda disamping kanan dan seorang lagi disebelah kiriku. Masing-masing mereka bertanya; Wahai paman, yang mana Abu Jahl itu? Lalu aku bertanya kepada mereka; Apa urusanmu dengannya? Mereka menjawab; Sampai kepadaku bahwa dia telah mencerca Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Sungguh demi Allah, apabila aku melihatnya aku tidak akan biarkan dia lepas sampai salah seorang dari kami mati duluan. Lalu tiba-tiba berkelelahbat  ditengah pasukan sosok Abu Jahl. Kata Abdurrahman kepada kedua pemuda ini; Itu orang yang kalian cari. Lalu pergilah dua pemuda itu menyongsong Abu Jahl hingga akhirnya keduanya berhasil membunuhnya.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd!

Ummat Islam! Sesungguhnya menyambung ketaatan dengan ketaatan adalah perkara yang dituntut di dalam Islam. Memang Ramadhan telah pergi, namun apakah kepergiannya berarti terhenti semua ibadah yang biasa kita lakukan di dalamnya?

وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِن بَعْدِ قُوَّةٍ أَنكَاثًا

Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali

Suatu hari datanglah Utsman bin Abdullah Ats-Tsaqafi kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkata;

يا رسول الله قل لي في الإسلام قولا لا أسأل عنه أحدا غيرك

Wahai Rasulallah, sampaikanlah kepadaku di dalam Islam ini satu perintah yang aku tidak perlu bertanya lagi kepada seorang pun setelahmu!

Maka Nabi berkata;

قل آمنت بالله ثم استقم!

Katakanlah; Aku beriman kepada Allah, setelah itu istiqamahlah!

Orang yang istiqamah diatas ketaatan tiada pernah merugi. Allah Ta’aala berfirman;

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ نُزُلًا مِّنْ غَفُورٍ رَّحِيمٍ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan:”Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan):”Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu” Kamilah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari (Rabb) Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 41:30-32)

Dahulu para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam apabila melakukan suatu ibadah istiqamah sampai akhir hayatnya, bahkan mereka malu untuk meninggalkannya sepeninggalan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam padahal dimasa hidupnya beliau dia selalu mengerjakannya.

Di dalam Shahih Bukhari dahulu Abdullah bin Amr bin Al ‘Ash pernah berkata;

لأقومن الليل ولأصومن النهار ما عشت

Aku akan terus shalat malam dan puasa sepanjang hidupku

Lalu ucapan Abdullah ini di dengar oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam maka beliau memanggilnya; “Benarkah kamu yang mengatakan ini dan itu?” Abdullah menjawab; Benar ya Rasulullah!

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkata kepadanya; “Kamu tidak akan bisa, tapi berpuasalah dan berbukalah. Berpuasalah tiga hari dalam sebulan. Karena setiap kebaikan diganjar 10 kali lipat dan itu sebanding dengan puasa sepanjang masa.”

Abdullah berkata;

إني أطيق أفضل من ذلك

Saya sanggup lebih daripada itu, ya Rasulallah!

Baginda Rasulullah berkata; “Kalau begitu puasa dua hari berbuka sehari”

Abdullah berkata;

إني أطيق أفضل من ذلك

Saya sanggup lebih daripada itu, ya Rasulallah!

Lalu baginda Rasulullah berkata; “Kalau begitu puasa sehari dan berbuka sehari. Ini puasa Nabiyullah Daud.”

Abdullah berkata;

إني أطيق أفضل من ذلك

Saya sanggup lebih daripada itu, ya Rasulallah!

Baginda Rasulullah berkata;

لا أفضل من ذلك!

“Tidak ada yang lebih baik daripada itu!”

Dikisahkan bahwa Abdullah berpegang kepada pesan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berpuasa sehari berbuka sehari. Namun ketika usianya telah lanjut ia berkata;

يا ليتني قبلت رخصة رسول الله

Aduhai, andaikan dahulu aku terima keringanan dari Rasulullah!

Dia malu untuk meninggalkan amalan sepeninggalan Rasulullah padahal dimasa hidup Rasulullah dia rajin mengerjakannya!

Maka istiqamahlah! Karena ia adalah wasiat Allah kepada Nabi-Nya.

يا أيها النبي اتق الله

Wahai Nabi, bertakwalah kamu kepada Allah!

Yakni tetap teruskan ketakwaanmu kepada-Nya.

Dan Allah berfirman,

وَلَوْلَا أَن ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدتَّ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلًا إِذًا لَّأَذَقْنَاكَ ضِعْفَ الْحَيَاةِ وَضِعْفَ الْمَمَاتِ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَكَ عَلَيْنَا نَصِيرًا

Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka. kalau terjadi demikian, benar-benarlah, Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap Kami. (QS. 17:74-75)

Kalau seperti ini ancaman Allah kepada Nabi-Nya kekasih-Nya maka bagaimana dengan kita?!

Istiqamahlah, karena ia merupakan wasiat Allah kepada orang-orang terdahulu dan kemudian.

وَكَتَبْنَا لَهُ فِي الْأَلْوَاحِ مِن كُلِّ شَيْءٍ مَّوْعِظَةً وَتَفْصِيلًا لِّكُلِّ شَيْءٍ فَخُذْهَا بِقُوَّةٍ وَأْمُرْ قَوْمَكَ يَأْخُذُوا بِأَحْسَنِهَا ۚ سَأُرِيكُمْ دَارَ الْفَاسِقِينَ

Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu; maka (Kami berfirman): “Berpegang padanya dengan teguh dan suruhlah kaummu berpegang kepada (perintah-perintahnya) dengan sebaik-baiknya, nanti Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasik. (QS. 7:145)

Dan Allah berfirman;

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rizki kepadamu, Kamilah yang memberi rizki kepadamu. Dan akibat(yang baik) itu adalah bagi orang yang bertaqwa. (QS. 20:132)

وَوَصَّىٰ بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata), “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu. Karena itu, janganlah kamu mati, kecuali dalam memeluk agama Islam.” (QS. 2:132)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *