Berikut ini kutipan penjelasan Al Imam Al Albani Rahimahullah seputar “Laa ilaaha Illallah” dalam kitab beliau “At-Tauhid Awwalan Ya Duatal Islam”

Adapun mayoritas muslimin sekarang yang bersyahadat dengan “Laa ilaaha Illallah”, mereka tidak memahami maknanya dengan baik. Bahkan terkadang mereka memahaminya dengan pemahaman yang terbalik 180 derajat.

Saya beri contoh, misalnya: Sebagian mereka menulis tulisan tentang makna “Laa ilaaha Illallah” kemudian menafsirkannya dengan: tidak ada Rab selain Allah!!

Padahal hal ini musyrikin dahulu mengimaninya, tapi kendati begitu keyakinan ini tidak berguna bagi mereka. Allah Ta’aala berfirman;

ولئن سألتهم من خلق السموات والأرض ليقولن الله

“Apabila kamu tanya kepada mereka, siapakah yang menciptakan langit dan bumi, orang-orang musyrikin itu pasti menjawab: Allah (yang menciptakannya).”

Maka dahulu musyrikin beriman bahwa semesta ini Allah yang menciptakannya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Akan tetapi mereka menjadikan tandingan-tandingan dan sekutu-sekutu bagi Allah dalam peribadahan.

Mereka mengimani bahwa Rabb (yang menciptakan, memiliki dan mengatur) hanya satu, tapi mereka (juga) mengimani bahwa yang berhak diibadahi ada banyak. Oleh karena itu Allah membantah keyakinan ini, yaitu keyakinan yang Ia namakan dengan: peribadahan kepada selain-Nya, dengan firman-Nya:

والذين اتخذوا من دونه أولياء ما نعبدهم إلا ليقربونا إلى الله زلفى

“Dan orang-orang yang mengambil selain Allah sebagai penolong-penolongnya, (mereka berkata) kami tidak beribadah kepada mereka (wali-wali itu) kecuali agar mereka mendekatkan diri-diri kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.”

Dahulu musyrikun mengetahui bahwa arti dari ucapan “Laa ilaaha Illallah” adalah berlepas diri dari peribadahan kepada selain Allah Azza wa Jalla. Adapun mayoritas muslimin sekarang, mereka menafsirkan kalimat agung ini dengan “tidak ada Rabb selain Allah!!”

Maka apabila seorang muslim mengucapkan “Laa ilaaha Illallah” bersamaan dengan itu ia beribadah kepada selain Allah, disamping ibadahnya kepada Allah. Maka ia dan musyrikin akidahnya sama! Meskipun lahiriyahnya adalah Islam, karena ia mengucapkan “Laa ilaaha Illallah”. Maka ia dari sudut pandang ini lahiriyahnya muslim.

Dan ini diantara alasan yang mengharuskan bagi kita semua sebagai da’i yang mengajak kepada Islam, untuk berdakwah kepada tauhid dan menegakkan hujjah atas orang yang jahil akan makna “Laa ilaaha Illallah” dan terjatuh kepada lawannya. (Kondisi mereka ini) berbeda dengan orang musyrikin. Karena musyrikin menolak mengucapkan “Laa ilaaha Illallah” maka ia bukan muslim secara lahir dan batin.

Adapun mayoritas muslimin sekarang, mereka muslimun. Karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: ((Apabila mereka mengucapkannya, terlindungilah dariku darah-darah mereka, harta-harta mereka kecuali dengan alasan yang benar. Dan perhitungan mereka disisi Allah Ta’aala.)) Muttafaq Alaihi dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhuma.

Karena itu, maka aku akan katakan sebuah kalimat, dan kalimat ini jarang aku ucapkan, yaitu: Sesungguhnya realita mayoritas muslimin sekarang lebih buruk daripada mayoritas Arab di masa jahiliyah dahulu. Yaitu dari sisi jeleknya pemahaman mereka terhadap kalimat agung ini. Karena musyrikin arab dahulu memahaminya tapi mereka tidak mengimaninya. Adapun mayoritas muslimin sekarang, mereka mengucapkan apa yang tidak mereka yakini (kandungannya). Mereka mengucapkan “Laa ilaaha Illallah” tapi tidak mengimani sama sekali maknanya.

Oleh karena itu aku meyakini bahwa kewajiban yang pertama atas para da’i muslimin yang sesungguhnya adalah selalu menggembar-gemborkan seputar kalimat ini dan seputar menerangkan maknanya dengan ringkas kemudian dengan mendetilkan konsekwensi-konsekwensi dari kalimat yang agung ini dengan memurnikan segala macam bentuk ibadah hanya untuk Allah semata. Karena Allah Azza wa Jalla ketika menghikayatkan ucapan musyrikin yang berkata: “Kami tidak beribadah kepada mereka, melainkan agar mereka mendekatkan diri-diri kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya” (Dia) menjadikan semua ibadah yang diberikan kepada selain Allah sebagai bentuk kekufuran kepada kalimat yang agung ini, “Laa ilaaha Illallah”.

Oleh karena itu aku katakan sekarang: Tidak ada faidah (tidak berguna, tidak bermanfaat) sama sekali mengkotak-kotakkan muslimin dan mengumpulkan mereka kemudian meninggalkan mereka dalam kesesatan tanpa pemahaman akan kalimat yang agung ini. Hal ini tidak berguna bagi mereka di dunia apalagi di akhirat!

Kami mengetahui sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: ((Barangsiapa meninggal dunia dan dia bersyahadat dengan “Laa ilaaha Illallah” diatas keikhlasan dari hatinya, Allah haramkan badannya dari neraka)). Dan dalam riwayat lainnya ((Maka ia masuk ke dalam surga)).

Maka jaminan masuk ke dalam surga adalah untuk orang yang mengucapkannya diatas keikhlasan meski setelah sekian waktu dan azab yang menimpanya. Karena orang yang memiliki keyakinan yang benar terhadap kalimat ini terkadang diazab disebabkan apa yang ia perbuat dan kerjakan dari kemaksiatan-kemaksiatan dan dosa. Akan tetapi tempat kembalinya berakhir di surga.

Dan sebaliknya, barangsiapa mengucapkan kalimat agung ini dengan lisannya, tapi keimanan belum masuk ke dalam hatinya. Maka keadaan ini tidak berguna baginya sama sekali di akhirat. Bisa berguna baginya di dunia, selamat dari diperangi dan dibunuh apabila ummat Islam memiliki kekuatan dan kekuasaan. Adapun di akhirat (kalimat ini) tidak berguna baginya sama sekali kecuali apabila ia mengucapkannya sambil ia memahami maknanya –pertama- dan –kemudian- dia memahami maknanya. Karena sekedar memahami saja tidak cukup, kecuali apabila dibarengi dengan pemahaman, keimanan terhadap apa yang dia pahami. Ini poin, dan menurutku mayoritas manusia lalai dari perkara ini! Yaitu pemahaman tidak praktis melahirkan keimanan, bahkan keduanya harus saling bersandingan sehingga dia disebut sebagai orang yang beriman.

Beliau juga berkata: Adapun orang yang mengucapkannya dengan lisannya, tapi tidak memahami maknanya, atau ia memahami maknanya akan tetapi ia tidak mengimani makna tersebut. Maka tidak berguna baginya ucapannya dengan “Laa ilaaha Illallah” kecuali di dunia, apabila ia hidup dibawah naungan hukum islam, dan bukan di akhirat!!

Kesimpulan:

1. Orang yang mengucapkan syahadat tapi tidak memahami maknanya, atau memahaminya tapi tidak mengimaninya, ucapannya dengan “Laa ilaaha Illallah” hanya berguna baginya di dunia (lahiriyahnya muslim di dunia), adapun diakhirat tidak.

2. Kewajiban atas semua da’i untuk menggembar-gemborkan seputar kalimat ini, mendakwahinya, memperkenalkan makna dan konsekwensinya.

3. Mengkotak-kotakkan muslimin dalam kelompok-kelompok merupakan perbuatan yang sia-sia. Apakah mengkotak-kotakkan mereka dalam jamaah-jamaah atau yang serupa dengannya seperti membangun fanatisme terhadap person-person atau slogan-slogan.

Sumber: http://www.alalbany.net/4377

Wallahul Muwaffiq

Citayam

18 Safar 1436/11 Desember 2014.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *