Sudah menjadi konsekwensi seseorang yang mentauhidkan Allah, dia berdakwah kepadanya. Karena tidaklah sempurna keimanan seseorang sampai dia berdakwah kepada tauhid.
Asy-Syaikh Rabi’ Hafidzahullah berkata, “Maka berdakwah kepada tauhid dengan semua jenisnya merupakan kaidah seluruh risalah dan wajib menjadi kaidah para da’i yang menyeru ke jalan Allah Ta’ala dari ummat ini pada setiap zaman dan generasinya, mencontoh para rasul yang mulia Alaihimus Shalaatu Was Salam, dan meniti manhaj mereka yang bijak yang Allah Ta’ala embankan kepada mereka semua di dalam ayat-Nya,
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut (peribadahan kepada selain-Nya) itu”. (Qs. An-Nahl: 36)
Ayat di atas menjelaskan dengan tegas bahwa tidak satu pun nabi kecuali menyeru kepada tauhid sebagai poros dakwah mereka. Sebagaimana yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala terangkan di dalam Al Qur’an secara global dan terperinci. Dan berada pada barisan pertama, nabi-nabi yang dijuluki dengan sebutan ulul azmi yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala puji mereka di dalam ayat-Nya:
“Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati (ulul azmi) dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka.” (Qs. Al Ahqaf: 35)

Dan di antara ulul azmi tersebut adalah: Nuh Alaihissalaam.Beliau merupakan bapak manusia yang kedua, utusan Allah yang pertama kepada penduduk bumi. Nabi yang mulia ini hidup dalam masa dan zaman yang panjang, seribu kurang lima puluh tahun, yang beliau habiskan dalam mendakwahi kaumnya untuk mentauhidkan Allah dan mengikhlaskan ibadah hanya untuk-Nya tanpa lelah dan bosan, siang dan malam, sembunyi-sembunyi dan terang-terangan.
Di dalam surat Nuh ayat 1-25 Allah Subhanahu Wa Ta’ala menceritakan tentang kesimpulan dakwah nabi yang mulia ini yang memakan waktu selama seribu kurang lima puluh tahun. Dakwah yang sungguh-sungguh dan kontinu, beliau tidak meninggalkan satu pun sarana yang mungkin kecuali ditempuhnya dalam rangka mengupayakan hidayah bagi kaumnya, sesekali dengan janji sesekali dengan ancaman, beliau berhujjah dengan dalil-dalil akal dan realita dari apa-apa yang terdapat pada diri-diri mereka sendiri dan kehidupan mereka dan dari apa-apa yang terdapat di hadapan mereka dari langit dan bumi dan apa-apa yang terdapat pada keduanya dari tanda-tanda kebesaran-Nya dan pelajaran-pelajaran. Akan tetapi itu semua tidak berguna bagi mereka dan tidak mendorong mereka untuk menerima dakwahnya. Bahkan mereka semakin bertahan di atas kekufuran dan kesesatan mereka dan mereka benar-benar menyombongkan diri. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Nuh berkata: “Ya Rabbku, sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku, dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka. Dan melakukan tipu-daya yang amat besar”. (Qs. Nuh: 21-22)
Mereka saling menguatan untuk bersabar bersama sesembahan dan berhala-berhala mereka yang batil. Sehingga hasil dari pembangkangan dan kesombongan ini adalah kebinasaan dan kehancuran di dunia dan di akhirat mereka mendapatkan kekekalan di dalam azab neraka. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) ilah-ilah kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwaa’, yaghuts, ya’uq dan nasr” Dan sesudahnya mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia); dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan. Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka, maka mereka tidak mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Allah.” (QS. Nuh: 23-25)

Di sini kita bertanya-tanya: kenapa nabi yang mulia ini bertahan sampai selama ini, mengerahkan dan mencurahkan upaya yang besar tanpa letih dan bosan mengajak kaumnya kepada tauhid?! Dan kenapa Allah memuji Nuh dan menyanjungnya dengan pujian yang indah dan mengekalkan penyebutannya di dalam Al Qur’an dan menggolongkannya di dalam barisan ululazmi?! Apakah dakwah tauhid berhak mendapatkan keistimewaan dan perlakuan seperti ini?!

Maka jawaban yang adil adalah: bahwa dakwah tauhid dan upaya melenyapkan kesyirikan serta membersihkan bumi Allah darinya berhak mendapatkan semua ini dan bahwasanya inilah dakwah yang hikmah dan bijak dan sesuai dengan fitrah dan akal sehat. Dan bahwasanya yang wajib atas setiap da’i ke jalan Allah untuk memahami manhaj ini dan dakwah ilahiyah yang agung ini serta tuntutan yang besar ini. Yaitu agar mereka mengupayakan segenap jerih payahnya dan semua kekuatannya dalam rangka merealisasikan dakwah ini dan menyebarkannya di bumi Allah seluruhnya. Dan agar mereka saling tolong menolong, bahu membahu dan bersatu serta saling membenarkan sebagaimana para rasul da’i-da’i tauhid, yang terdahulu dari mereka mengabarkan tentang kedatangan nabi-nabi setelahnya dan yang belakangan dari mereka membenarkan pendahulunya serta menguatkan dakwahnya dan berjalan di atas jalannya.
Dan wajib bagi kita meyakini bahwa apabila di sana ada manhaj yang lebih utama dan lurus daripada manhaj ini tentu Allah telah memilihkan untuk para rasul-Nya dan memuliakan mereka dengannya. Maka apakah pantas bagi seorang mukmin berpaling darinya dan memilih untuk dirinya satu manhaj selain manhaj ini dan menyombongkan diri di hadapan manhaj rabbani ini dan da’i-da’inya?!!

Jafar Salih

7 Mei 2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *