1. Nama, kelahiran dan permulaan dalam menuntut ilmu

Beliau adalah al-‘Allāmah ‘Abdul-Lathīf bin ‘Abdurrahmān bin Hasan.
Dilahirkan pada tahun 1225 di Dir’iyyah.
Beliau tumbuh dalam keluarga penuh ilmu, dari seorang ayah yang merupakan seorang ‘ulama, yaitu asy-Syaikh ‘Abdurrahmān bin Hasan.1

Ketika beliau berumur sekitar 8 tahun, beliau harus pindah ke Mesir karena “kedatangan” pasukannya Ibrahim Pasya ke negeri Dir’iyyah.
Beliau pindah ke Mesir bersama keluarganya.
Di Mesir, ‘Abdul-Lathīf kecil sangat rajin dalam menuntut ilmu. Selesai satu majelis, ‘Abdul-Lathīf kecil pindah ke majelis yang lain, sebagaimana saat itu di sekitar al-Azhar tersebar majelis-majelis ilmiyyah, baik majelis tafsir, hadits, ilmu ushul, nahw dan seterusnya.

Selain di al-Azhar, ‘Abdul-Lathīf kecil juga menuntut ilmu aqidah dari para ‘ulama Najd yang turut pindah ke Mesir saat itu, seperti ayah beliau asy-Syaikh ‘Abdurrahmān bin Hasan 2. Pelajaran-pelajaran tawhid dan aqidah diberikan di tempat para orang-orang Najd saat itu menetap, sehingga ‘Abdul-Lathīf dikenal sebagai pemuda yang bisa ditemukan pada tiga tempat: Majelis ‘Ulama Najd, majelis al-Azhar atau perpustakaan.

Perpaduan antara ilmu yang didapat dari ‘ulama Najd dan ‘ulama Mesir, menjadikan ‘Abdul-Lathīf mempunyai aqidah yang kuat, pemahaman yang luas, dan lisan ‘Arab yang luar biasa fasih.

2. Memperpanjang waktu belajar di Mesir

Pada tahun 1241H, ketika sang ayahanda ‘Abdurrahmān bin Hasan dipanggil kembali ke Najd oleh al-Imām Turki bin ‘Abdillāh, ‘Abdul-Lathīf yang saat itu berumur 16 tahun memutuskan untuk tetap menetap di Mesir dalam rangka meneruskan menuntut ilmu.

Beliau menetap di Mesir selama 31 tahun.
Selama itu pula beliau belajar, meneliti dan memperdalam pembahasan-pembahasan ilmu syari’ah.
Selama di Mesir beliau belajar kepada ‘ulama besar Mesir, termasuk grand mufti-nya al-Azhar pada masa itu asy-Syaikh Ibrāhīm al-Bājūrī3 dan juga asy-Syaikh Mushtafā al-Azharī.

Asy-Syaikh ‘Abdul-Lathīf kembali ke Najd pada tahun 1264H dengan mampir ke Makkah dalam perjalanan pulangnya.

3. Tiba di Riyadh

Tahun 1264H, mufti Najd saat itu, yaitu asy-Syaikh ‘Abdurrahmān bin Hasan sudah uzur, dan memasuki usia dengan kepala tujuh.
Dengan kedatangan anaknya, yang pulang membawa sekian banyak buku-buku dari Mesir, maka gembiralah asy-Syaikh ‘Abdurrahmān bin Hasan.
Asy-Syaikh ‘Abdurrahmān mengetahui bahwa anak-nya telah menjelma menjadi seseorang yang mempunyai keilmuan dan ghirah Islam yang sangat kuat.

4. Membantu tugas sang ayah dalam jihad dan da’wah

Dengan bertambahtuanya sang ayah, sebagian tanggungjawab diemban oleh asy-Syaikh ‘Abdul-Lathīf, baik dalam masalah da’wah maupun jihad.
Asy-Syaikh ‘Abdul-Lathīf beberapa kali ikut berjihad bersama al-Amir Fayshal. Dan diriwayatkan pada salah satu dari peperangan tersebut, setelah melaksanakan shalat ashar, maka pasukan kembali ke satu tenda besar. Maka setelah berkumpul semuanya, asy-Syaikh ‘Abdul-Lathīf memerintahkan seseorang untuk membaca Kitab at-Tawhid:

باب : قل ادعوا الذين زعمتم من دون الله لا يملكون مثقال ذرة في السماوات ولا في الأرض
Bab: Firman-Nya: “Katakan (wahai Muhammad): ‘Serulah mereka yang kalian anggap sebagai tuhan selain Allaah! Mereka tidak memiliki kekuasaan sebesar biji zarah pun di langit dan di bumi'”

Maka asy-Syaikh ‘Abdul-Lathīf menjelaskan bab itu, dan semua orang pun takjub seakan-akan tafsir al-Qurthubī atau tafsir ibn Katsīr didepan kedua matanya rahimahullāh.

Diriwayatkan pula, ketika al-Amir Fayshal kembali menguasai Ahsaa’, maka beliau mendapati disitu terdapat banyak ‘ulama madzhab yang membela kesyirikan. Maka diiutuslah asy-Syaikh ‘Abdul-Lathīf ke Ahsaa untuk mendebat dan meruntuhkan hujjah-hujjah para ‘ulama musyrikin.
Atas hidayah dan petunjuk Allaah, kemudian dengan lisan asy-Syaikh yang fasih, dan dalil yang shahih, maka mereka semua menerima apa yang dipaparkan.

Dan jadilah daerah Ahsā’ kembali kepada aqidah tauhid yang murni.

5. Menjadi qadhi

Keseharian beliau rahimahullaah di Najd adalah berda’wah, mengajak manusia kepada al-Haq, mengadakan majelis-majelis ilmu dan juga menulis karya-karya ilmiyyah.
Pada saat sebelum ayahnya wafat, beliau sering membantu ayahnya dalam masalah menjalankan tugas kehakiman.
Dan beliau adalah seorang qadhi/hakim yang adil, yang dicintai oleh masyarakat.

6. Karya-karya

Karya-karya beliau yang masyhur:
Minhaj at-Ta’sīs. Sebuah bantahan kepada musuh da’wah tawhid Dawud bin Jirjis.
Misbāh adz-Dzhalām. Sebuah bantahan kepada ‘Utsmān bin Manshūr 4, yang juga musuh da’wah tawhid.
– Kumpulan rasail dan fatwa beliau

7. Murid-murid

Asy-syaikh ‘Abdul-Lathīf merupakan seorang ‘ulama pada masanya. Banyak murid-murid yang menimba ilmu dari beliau. Diantaranya:
– Asy-Syaikh ‘Abdullāh, anak beliau sendiri.
– Asy-Syaikh Ishāq bin ‘Abdurrahmān 5, adik beliau.
– Asy-Syaikh Sulaymān bin Sahmān
– Asy-Syaikh Hamd bin Fāris

8. Wafat beliau

Beliau wafat pada 1293H di kota Riyadh pada usia 68 tahun.
Maka kaum Muslimin kembali kehilangan salah seorang ‘ulamanya. Sungguh beliau adalah seorang ‘ulama yang mempunyai perhatian besar terhadap ilmu, selalu berusaha bersikap adil kepada masyarakat dalam keputusannya, seorang yang pemberani 6 dan giat dalam amar ma’ruf nahi munkar.
Cukuplah pujian yang diberikan oleh ‘ulama Iraq pada zaman itu, asy-Syaikh Mahmud Syukrī al-Alusī 7, bahwasanya dia berkata atas asy-Syaikh ‘Abdul-Lathīf:

“Seorang yang memiliki banyak ilmu. Ahli hafalan dan pemahaman. Yang menguasai ilmu, ushul-nya dan furu’-nya”

Sumber:
Masyāhīr ‘Ulamā Najd, asy-Syaikh ‘Abdurrahmān ibn ‘Abdul-Lathīf ālusy-Syaikh
‘Ulamā Najd, asy-Syaikh ‘Abdullāh ibn ‘Abdurrahmān ālu-Bassām
As-Suhb al-Wābilah 8, asy-Syaikh ‘Abdullah ibn Muhammad an-Najdī dengan tahqiq asy-Syaikh Bakr Abu Zayd

Catatakan Kaki:

  1. Ibu beliau, yaitu istrinya asy-syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan, juga anak perempuan dari salah satu ulama Najd yaitu asy-Syaikh ‘Abdullāh bin Muhammad bin AbdulWahhāb. Jadi asy-Syaikh ‘Abdurrahman menikah dengan sepupunya.
  2. Asy-Syaikh ‘Abdul-Lathīf juga menghadiri majelisnya asy-Syaikh ‘Abdullāh bin Muhammad dan asy-Syaikh ‘Abdurrahmān bin ‘Abdullāh.
  3. Seorang ‘ulama besar pada masanya. Syafi’iyyah dalam madzhab. Karya beliau yang terkenal adalah Hasyiah al-Bājūrī. Asy-Syaikh ‘Abdurrahmān bin Hasan juga sempat menghadiri majelisnya. Sehingga merupakan kedustaan besar bahwa ‘ulama Najd adalah orang-orang yang fanatik yang tidak mengambil ilmu kecuali dari kelompoknya.
  4. ‘Utsmān bin ‘Abdil-‘Azīz bin Manshūr. Dia juga mempunyai kitab Syarah Kitab at-Tawhid. Sehingga dari sini kita bisa mendapat faidah bahwasanya tidak semua orang yang mempunyai sebuah syarah atas Kitab at-Tawhid otomatis memiliki pemahaman yang sama dengan ‘ulama Najd.
  5. Penulis kitab Hukm Takfir al-Mu’ayyan.
  6. Al-‘allamah Bakr Abu Zayd mengatakan tentang beliau “Mujahid dengan pedang dan tombak, dengan lisan dan tulisan”.
  7. Al-‘Allamah Abul Ma’ālī Mahmūd Syukrī al-Alūsī. Ahli hadits. Mempunyai karya yang sangat bagus dalam ilmu Musthalāh al-Hadīts yaitu ‘Iqd ad-Durar yaitu penjelasan terhadap mukhtashar nukhbatil fikar. Beliau juga mempunyai dua kitab bantahan terhadap Dawud bin Jirjis.
  8. Penulis kitab sengaja tidak memasukan nama asy-Syaikh ‘Abdul-Lathīf karena kritikannya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *