Terjemahan kitab KASYF SYUBUHAT karya Al Imam Al Mujaddid Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah

Ketahuilah semoga Allah merahmatimu, bahwa tauhid adalah menunggalkan Allah dalam peribadahan. Dan tauhid merupakan agama semua rasul yang pernah Allah utus kepada hamba-hamba Nya. Utusan Allah yang pertama adalah Nuh Alaihis Salam. Allah mengutus dia kepada kaumnya ketika mereka berlebih-lebihan terhadap orang-orang shalih; Wad, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr. Dan utusan terakhir adalah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Dialah yang menghancurkan patung orang-orang shalih itu.

Allah mengutusnya kepada orang-orang yang (biasa) mengerjakan ibadah, haji, bersedekah dan banyak mengingat Allah. Tapi mereka menjadikan sebagian makhluk sebagai perantara-perantara antara mereka dengan Allah Ta’aala. Mereka beralasan; Kami ingin mendekatkan diri kepada Alah Ta’aala melalui mereka, dan kami menginginkan syafaat mereka disisi Allah. (Perantara-perantara itu) seperti para malaikat, Isa dan Maryam, serta selain mereka dari orang-orang shalih. Maka Allah mengutus Muhammad untuk memperbaharui untuk mereka agama bapak moyang mereka Ibrahim Alaihis Salam, dan mengabarkan kepada mereka bahwa taqarrub (ibadah) dan keyakinan seperti ini adalah murni hak Allah semata, tidak boleh diberikan sedikit pun kepada selain Allah, seperti malaikat yang dekat atau nabi yang diutus, apalagi selain keduanya.

Ini mereka lakukan disamping keyakinan mereka bahwa Allah adalah Pencipta satu-satunya tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwasanya tidak ada yang memberi rizki selain Dia, tidak ada yang menghidupkan dan mematikan selain Dia, dan tidak ada yang mengurus semua urusan selain Dia. Dan bahwa segenap langit serta penghuninya, bumi yang tujuh lapis dan penghuninya semuanya adalah hamba Allah, berada di bawah kendali dan kekuasaan-Nya.

Apabila kamu ingin bukti bahwa orang-orang musyrikin yang diperangi Rasulullah Shalllahu ‘Alaihi Wasallam bersaksi akan hal ini, bacalah firman Allah Ta’aala

قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّن يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَن يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ الْأَمْرَ ۚ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ ۚ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ

“Katakanlah:”Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan” Maka mereka menjawab:”Allah”. Maka katakanlah:”Mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?” (QS. 10:31)

Dan firman-Nya;

قُل لِّمَنِ الْأَرْضُ وَمَن فِيهَا إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ سَيَقُولُونَ لِلَّهِ ۚ قُلْ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ. قُلْ مَن رَّبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ سَيَقُولُونَ لِلَّهِ ۚ قُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ. قُلْ مَن بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيْهِ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ سَيَقُولُونَ لِلَّهِ ۚ قُلْ فَأَنَّىٰ تُسْحَرُونَ

Katakanlah: “Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ingat?” Katakanlah: “Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Arsy yang besar?” Mereka akan menjawab: “kepunyaan Allah”. Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak bertaqwa?” Katakanlah:”Sipakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?” (Qs. Al Mu’minun: 84-89) dan ayat-ayat lainnya.

Maka apabila telah jelas bagimu bahwa mereka telah mengakui hal ini, tapi belum memasukkan mereka kepada tauhid yang diserukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Dan kamu telah mengetahui bahwa tauhid yang mereka ingkari adalah tauhid ibadah yang dinamakan orang-orang musyrik di zaman kita dengan sebutan i’tiqad. Sebagaimana dahulu mereka menyeru Allah siang dan malam, kemudian diantara mereka ada yang menyeru para malaikat karena keshalihan  dan kedekatan mereka kepada Allah Azza wa Jalla, agar malaikat-malaikat itu memberi syafaat untuk mereka. Atau menyeru orang shalih seperti Latta atau (menyeru) seorang nabi seperti Isa. Dan kamu tahu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerangi mereka karena kesyirikan ini, dan beliau mengajak mereka untuk memberikan ibadah hanya untuk Allah semata, sebagaimana yang terdapat pada firman-Nya;

فَلَا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

“Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” (Qs. Jin: 18) Dan Allah berfirman;

لَهُ دَعْوَةُ الْحَقِّ ۖ وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِهِ لَا يَسْتَجِيبُونَ لَهُم بِشَيْءٍ

“Hanya milik Allah-lah ibadah yang murni. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka.” (Qs. Ra’d: 14)

Dan telah jelaslah olehmu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerangi mereka agar supaya doa seluruhnya milik Allah semata, menyembelih seluruhnya milik Allah semata, nazar seluruhnya untuk Allah semata, dan istighatsah seluruhnya kepada Allah semata. Dan segala macam ibadah semuanya hanya untuk Allah. Dan kamu telah mengetahui bahwa pengakuan mereka terhadap tauhid rububiyah tidak memasukkan mereka ke dalam Islam. Dan ketergantungan mereka kepada para malaikat, nabi dan wali dengan tujuan menginginkan syafaat mereka dan mendekatkan diri kepada Allah melalui mereka, itulah yang menjadikan darah dan harta mereka halal. Kamu pun tahu sekarang tauhid yang diseru oleh semua rasul dan ditolak oleh orang-orang musyrik.

Tauhid ini itulah makna dari ucapanmu Laa ilaaha Illallah. Karena ilah menurut mereka adalah yang menjadi tujuan dari perkara ini semua, apakah malaikat, nabi, wali, pohon, kuburan, atau jin. Mereka tidak mengartikan ilah sebagai pencipta, pemberi rizki dan pengatur. Mereka tahu bahwa itu semua hanya milik Allah semata sebagaimana telah diterangkan. Melainkan yang mereka maksudkan dengan ilah adalah apa yang yang dipahami oleh musyrikin zaman kita dengan istilah sayyid. Maka Nabi diutus ke tengah-tengah mereka guna mengajak mereka kepada kalimat tauhid yaitu Laa ilaha illallah.

Dan yang dimaukan dengan kalimat ini adalah maknanya bukan sekedar mengucapkannya. Orang-orang kafir yang jahil mengetahui maksud Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan kalimat ini, yaitu menjadikan Allah sebagai satu-satunya tempat bergantung, dan mengingkari apa-apa yang diibadahi selain Allah, serta berlepas diri darinya. Karena ketika beliau mengajak kaumnya, “Ucapkanlah Laa ilaaha illallah” mereka menjawab,

أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ

“Mengapa ia menjadikan ilah-ilah itu Ilah Yang Satu saja sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. (Qs. Shaad: 5)

Maka apabila kamu telah mengetahui bahwa orang-orang jahil yang kafir saja mengetahui hal ini, maka yang mengherankan dari orang-orang yang mengaku beragama Islam tapi tidak mengetahui tafsir kalimat ini seperti yang diketahui oleh orang-orang jahil yang kafir itu. Bahkan mereka menyangka bahwa yang diminta dari kalimat itu hanya melafalkan huruf-hurufnya saja tanpa diikuti dengan keyakinan hati akan makna yang dikandungnya. Dan yang pintar dari mereka menyangka bahwa maknanya adalah tidak ada yang menciptakan, tidak ada yang memberi rizki, dan tidak ada yang mengurus urusan kecuali Allah. Maka tidak ada kebaikan pada diri seseorang dimana orang-orang jahil yang kafir lebih mengerti daripada dia akan makna Laa ilaaha Illallah.

Apabila kamu telah mengetahui apa yang aku sebutkan dengan hati yang paham, dan kamu mengetahui kesyirikan kepada Allah yang Dia ceritakan tentangnya;

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (Qs. An-Nisaa: 48)

Dan kamu mengetahui agama Allah, yang dengannya Dia mengutus rasul-rasul Nya dari utusan yang pertama sampai yang terakhir, yaitu agama yang Allah tidak terima dari seorang pun selain agama ini. Dan kamu mengetahui bahwa mayoritas manusia jahil tentang perkara ini. Semua ini memberikan kepadamu dua pelajaran;

Pertama, berbahagia berkat karunia Allah dan rahmat-Nya sebagaimana yang Allah firmankan;

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

“Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (Qs. Yunus: 58)

Dan pelajaran lainnya adalah rasa takut yang besar. Karena apabila kamu mengetahui bahwa seseorang menjadi kafir disebabkan ucapan yang dia lontarkan dengan lisannya, dan mungkin saja dia mengucapkannya karena jahil, maka seseorang tidak diberi udzur dengan sebab kejahilan. Dan mungkin juga dia mengucapkannya karena menyangka bahwa ucapannya itu mendekatkan dirinya kepada Allah, sebagaimana dahulu musyrikin menyangka demikian. Terlebih lagi apabila Allah pahamkan kamu kisah kaum Musa yang taat dan berilmu, bahwa mereka menghampiri Musa seraya berkata;

اجعل لنا إلها كما لهم آلهة

“Jadikan untuk kami ilah seperti mereka memiliki ilah-ilah.” (Qs. Al A’raf: 137)

Sehingga semakin besarlah rasa takutmu dan kesungguhanmu untuk membersihkan dirimu dari penyakit ini dan yang semisalnya.

Kemudian ketahuilah bahwa dengan kebijaksanaan-Nya Allah tidak mengutus seorang pun nabi yang membawa tauhid ini melainkan menjadikan baginya para musuh, sebagaimana yang Allah firmankan;

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (Qs. Al An’am: 112)

Dan bisa jadi terdapat pada musuh-musuh tauhid itu ilmu yang banyak, kitab-kitab dan hujjah-hujjah sebagaimana yang Allah firmankan;

فَلَمَّا جَاءَتْهُمْ رُسُلُهُم بِالْبَيِّنَاتِ فَرِحُوا بِمَا عِندَهُم مِّنَ الْعِلْمِ

“Maka tatkala datang kepada mereka rasul-sasul (yang dulu diutus kepada) mereka dengan membawa keterangan-keterangan, mereka merasa senang dengan ilmu yang ada pada mereka.” (Qs. Ghafir: 83)

Jika kamu telah mengetahui hal ini kamu pun sadar bahwa pada jalan menuju Allah pasti terdapat musuh-musuh yang menghalangi, orang-orang yang fasih, berilmu dan memiliki argumen-argumen. Maka yang wajib atasmu adalah mempelajari dari agama Allah yang menjadi senjata bagimu dalam memerangi setan-setan tersebut, yang pimpinan dan rajanya pernah berkata kepada Rabmu;

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ ثُمَّ لَآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

“Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalangi-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (Qs. Al A’raf: 16-17)

Tapi jika kamu kembali kepada Allah dan memperhatikan hujjah-hujjah dan keterangan-Nya maka jangan kamu takut dan bersedih hati “karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu lemah” (Qs. An-Nisa: 76)

Dan seorang ahli tauhid yang awam mampu mengalahkan seribu dari ulama musyrikin, sebagaimana firman-Nya;

وإن جندنا لهم الغالبون

“Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang.” (Qs. Ash-Shaaffaat: 173)

Maka para tentara Allah merekalah yang menang dengan hujjah dan lisan, sebagaimana mereka menang dengan pedang dan mata panah. Tapi yang dikhawatirkan adalah seorang muwahhid yang menempuh jalan ini tapi tidak punya senjata.

Dan Allah telah menganugrahkan kepada kita sebuah kitab yang Dia jadikan sebagai “… penjelas segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang berserah diri. (Qs. An-Nahl: 89) Maka tidak ada seorang pengekor kebatilan pun yang membawa argumen kecuali di dalam Al Qur’an ada yang membantahnya dan menerangkan kebatilannya, sebagaimana firman-Nya;

وَلَا يَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلَّا جِئْنَاكَ بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيرًا

“Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu perumpamaan, melainkan Kami datangkan kepadamu sesuatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.” (Qs. Al Furqan: 33)

Sebagian ahli tafsir berkata, ayat ini umum menyanggah setiap hujjah yang dibawa para pengekor kebatilan sampai hari kiamat.

Dan saya akan sebutkan kepadamu beberapa yang telah Allah sebutkan di dalam kitab-Nya sebagai jawaban atas argumen orang-orang musyrikin di zaman ini dalam membantah kita.

Maka kami katakan; Sanggahan terhadap para pengekor kebatilan dari dua jalan; global dan terperinci. Adapun sanggahan yang global merupakan perkara yang besar dan faidah yang agung bagi siapa saja yang memahaminya, yaitu firman Allah  Ta’aala;

هُوَ الَّذِي أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ

“Dia-lah yang menurunkan Alkitab (Alquran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat itulah pokok-pokok isi Alquran dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah”. (Qs. Ali Imran: 7)

Dan telah benar riwayatnya dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bahwa beliau bersabda;

إذا رأيتم الذين يتبعون ما تشابه منه فأولئك الذين سمى الله فاحذروهم

“Apabila kamu dapati orang-orang yang mengikuti ayat-ayat mutasyabih maka merekalah yang Allah sebut maka berhati-hatilah dari mereka.”

Contohnya, apabila ada sebagian musyrikin berkata kepadamu;

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (Qs. Yunus: 62) dan bahwasanya syafaat itu benar, dan para nabi memiliki kedudukan disisi Allah. Atau dia menyebutkan ucapan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai dalil yang mendukung kesesatannya. Namun kamu tidak memahami maksud dari ucapan yang dia sebutkan.

Maka jawablah dengan mengatakan; Sesungguhnya Allah telah menyebutkan di dalam kitab-Nya bahwa orang-orang yang di dalam hatinya terdapat kecenderungan kepada kesesatan meninggalkan yang muhkam dan mengikuti yang mutasyabih. Apa yang telah saya sebutkan kepadamu bahwa Allah Ta’aala menceritakan tentang orang-orang musyrikin dulu yang mengakui rububiyah dan bahwa kekufuran mereka adalah disebabkan ketergantungan mereka kepada para malaikat, nabi-nabi dan wali-wali, disamping ucapan mereka; “Mereka adalah para pemberi syafaat kami disisi Allah” (Qs. Yunus; 18) ini merupakan perkara yang muhkam dan terang yang tidak seorang pun mampu merubah maknanya.

Dan apa yang kamu sebutkan kepadaku wahai musyrik dari Al Quran atau ucapan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, aku tidak memahaminya. Tapi aku bisa memastikan bahwa ucapan Allah tidak saling bertabrakan dan bahwa ucapan Nabi tidak bersebrangan dengan Kalamullah.

Ini adalah jawaban yang benar tapi tidak ada yang memahaminya kecuali orang-orang yang diberikan Allah pemahaman maka jangan kamu meremehkannya. Karena hal ini sebagaimana yang Allah firmankan;

وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

“Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. (Qs. Fushshilat: 35)

Adapun jawaban terperinci, sesungguhnya para musuh-musuh Allah memiliki sanggahan-sanggahan yang banyak dalam menentang agama para rasul. Dengannya mereka menghalang-halangi manusia dari jalan Allah. Diantaranya adalah; Ucapan mereka bahwa kami tidak menyekutukan Allah. Dan kami bersaksi bahwa tidak ada yang menciptakan, memberi rizki, memberi manfaat dan memudharatkan kecuali Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan bahwa Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak memiliki untuk dirinya sendiri kemanfaatan dan kemudharatan apalagi Abdul Qadir atau selainnya. Tapi aku orang yang banyak berdosa, sedangkan orang-orang shalih itu memiliki kedudukan di sisi Allah, maka aku minta kepada Allah melalui mereka.

Maka jawablah dengan apa yang telah berlalu penjelasannya, yaitu bahwa orang-orang yang diperangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengakui apa yang kamu sebutkan. Mereka mengakui bahwa berhala-berhala mereka tidak punya kendali terhadap segala sesuatu. Tapi yang mereka cari adalah kedudukan dan syafaat (mereka). Dan bacakan kepadanya apa yang telah Allah sebutkan dan terangkan di dalam kitab-Nya.

Apabila mereka mengatakan, “Ayat tersebut turun untuk orang-orang yang beribadah kepada berhala. Bagaimana kamu jadikan orang-orang shalih seperti berhala? Atau bagaimana kamu jadikan para nabi sebagai berhala?” Maka jawablah dengan apa yang telah berlalu (penjelasannya). Karena apabila dia telah mengakui bahwa orang-orang kafir bersaksi bahwa rububiyah seluruhnya milik Allah, dan mereka tidak menuntut dari orang-orang yang mereka tuju itu selain syafaat, tapi disini dia ingin membedakan antara perbuatan yang musyrikin dahulu lakukan dengan yang dia perbuat dengan ucapannya. Maka sebutkan kepadanya bahwa orang-orang kafir dahulu diantara mereka ada yang menyeru berhala, dan ada yang menyeru para wali seperti yang telah Allah ceritakan tentangnya;

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ

“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah)…” (Qs. Al Israa’: 57) dan menyeru Isa putra Maryam dan ibunya padahal Allah telah berfirman;

مَّا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ ۖ كَانَا يَأْكُلَانِ الطَّعَامَ ۗ انظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ الْآيَاتِ ثُمَّ انظُرْ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ قُلْ أَتَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا ۚ وَاللَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Al-Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu). Katakanlah:”Mengapa kamu menyembah selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudharat kepadamu dan tidak (pula) memberi manfa’at”. Dan Allah-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Qs. Al Maidah: 75-76)

Dan sebutkan kepadanya firman Allah Ta’aala;

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا ثُمَّ يَقُولُ لِلْمَلَائِكَةِ أَهَٰؤُلَاءِ إِيَّاكُمْ كَانُوا يَعْبُدُونَ قَالُوا سُبْحَانَكَ أَنتَ وَلِيُّنَا مِن دُونِهِم ۖ بَلْ كَانُوا يَعْبُدُونَ الْجِنَّ ۖ أَكْثَرُهُم بِهِم مُّؤْمِنُونَ

“Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat:”Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?” Malaikat-malaikat itu menjawab:”Maha Suci Engkau.Engkaulah pelindung kami, bukan mereka; bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu” (Qs. Saba’: 41) dan firmannya;

وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَٰهَيْنِ مِن دُونِ اللَّهِ ۖ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ ۚ إِن كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ ۚ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ ۚ إِنَّكَ أَنتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ

“Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman:”Hai ‘Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia:”Jadikanlah aku dan ibuku dua orang Ilah selain Allah”. ‘Isa menjawab:”Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engaku telah mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib”. (Qs. Al Maidah: 116)

Katakan juga kepadanya, tidak tahukah kamu bahwa Allah mengkafirkan orang-orang yang beribadah kepada berhala, dan mengkafirkan juga orang-orang yang beribadah kepada orang-orang shalih, dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerangi mereka?!

Apabila dia mengatakan, “Orang-orang kafir itu berharap kepada mereka, sedangkan saya bersaksi bahwa Allah satu-satunya pemberi manfaat dan satu-satunya yang memudharatkan dan mengatur segala urusan. Saya tidak berharap kecuali dari Allah. Orang-orang shalih itu tidak memiliki sedikit pun kendali. Tapi saya menghadap mereka karena mengharap dari Allah syafaat mereka.”

Maka jawabannya; Sesungguhnya (alasan) ini persis seperti ucapan orang-orang kafir tidak berbeda sedikit pun. Bacakan kepadanya firman Allah Ta’aala;

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ

“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata):”Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya” (Qs. Az-Zumar: 3) dan firmannya;

وَيَقُولُونَ هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِندَ اللَّهِ

“…dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah”. (Qs.Yunus: 18)

Ketahuilah bahwa tiga syubhat ini merupakan yang terbesar yang ada pada mereka. Maka apabila kamu telah mengetahui bahwa Allah telah menerangkannya kepada kita di dalam kitab-Nya dan kamu memahaminya dengan baik, maka syubhat lainnya lebih mudah lagi.

Apabila dia berkata, “Saya tidak beribadah kecuali kepada Allah. Dan bersandar kepada orang-orang shalih seperti ini serta menyeru mereka bukan termasuk ibadah.”

Maka bilang kepadanya; Kamu mengakui bahwa Allah mewajibkan atasmu mengikhlaskan ibadah kepada-Nya. Dan ibadah itu merupakan hak Allah atas dirimu? Apabila dia menjawab; “Iya!”, katakan kepadanya; “Jelaskan kepadaku yang telah Allah wajibkan atasmu ini yaitu mengikhlaskan ibadah kepada Allah semata, dan itu merupakan hak Allah atasmu!”

Apabila dia tidak mengetahui apa itu ibadah dan macam-macamnya, jelaskan kepadanya ibadah itu dengan perkataanmu; “Allah berfirman;

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Berdoalah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Qs. Al A’raf; 55)

Maka apabila kamu sudah beritahu dia akan hal ini, katakan kepadanya; “Tahukah kamu bahwa ini adalah ibadah kepada Allah? Pasti dia akan menjawab; “Iya”. Dan doa adalah intinya ibadah. Katakan kepada dia; “Apabila kamu telah mengakui bahwa doa adalah ibadah, kemudian kamu berdoa kepada Allah siang dan malam dengan harap dan cemas, kemudian pada satu kebutuhanmu kamu berdoa kepada Nabi atau selainnya, bukankah kamu telah menyekutukan Allah dalam ibadah ini dengan selainnya?! Maka pasti dia akan menjawab; “Iya”.

Maka katakan kepadanya; Apabila kamu mengetahui firman Allah Ta’aala;

فصل لربك وانحر

“Maka shalatlah kamu untuk Rabmu dan menyembelihlah hanya untuk-Nya” (Qs. Al Kautsar; 2) kemudian kamu mentaati Allah dan menyembelih untuknya, bukankah ini ibadah?! Maka dia pasti akan menjawab; “Iya”. Maka katakan kepadanya; “Apabila kamu menyembelih untuk makhluk nabi atau jin atau selainnya bukankah kamu telah menyekutukan Allah pada ibadah ini dengan selain-Nya?! Maka dia pasti akan menjawab; “Iya”.

Bilang juga kepadanya; “Orang-orang musyrikin yang Al Qur’an berbicara tentang mereka, bukankah dahulu mereka beribadah kepada malaikat, orang-orang shalih, Latta, dan selainnya?! Maka dia pasti akan menjawab; “Iya”. Maka katakan kepadanya; “Bukankah ibadah mereka kepada sesembahan-sesembahan itu hanya dalam hal berdoa, menyembelih, menjadikan mereka sebagai tempat bersandar dan semisalnya?! Padahal (disamping itu) mereka sudah mengakui bahwa sesembahan tersebut adalah hamba Allah dan berada dibawah kendali-Nya, dan bahwa hanya Allah yang mengatur semua urusan. Tapi mereka (tetap) menyeru sesembahan-sesembahan tersebut dan bersandar kepadanya karena kedudukan  dan mengharapkan syafaat (mereka). Ini sangat jelas sekali.

Apabila dia bilang; “Apakah kamu mengingkari syafaat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan berlepasdiri darinya?”

Jawablah; “Aku tidak mengingkarinya dan tidak berlepasdiri darinya. Bahkan beliau adalah Asy-Syafi’ Al Musyaffa’, dan aku mengharapkan syafaatnya. Tapi syafaat seluruhnya milik Allah sebagaimana firmannya;

قُلْ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا ۖ لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Katakanlah: “Hanya kepunyaan Allah syafaat itu semuannya. Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi.Kemudiaan kepada-Nyalah kamu dikembalikan”.(Qs. Az-Zumar; 44) dan tidak berlaku kecuali setelah izin dari Allah, sebagaimana firmannya;

مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ

“Siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya?” (Qs. Al Baqarah; 255) dan seseorang tidak bisa memberi syafaat kepada siapa pun kecuali setelah ada izin dari Allah untuk diberikan kepadanya, seperti yang Allah firmankan;

وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَىٰ

“…dan mereka tidak memberi syafaat melainkan kepada orang-orang yang diridhai Allah.” (Qs. Al Anbiya; 28) dan Dia tidak meridhai kecuali tauhid, sebagaimana firmannya;

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ

“Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya…” (Qs. Ali Imran; 85)

Maka apabila syafaat seluruhnya milik Allah dan tidak berlaku kecuali dengan izinnya, dan Nabi serta selainnya tidak memberi syafaat kepada seorang pun sampai Allah izinkan untuk diberikan kepadanya, dan Allah tidak memberi izin syafaat itu diberikan kecuali kepada ahli tauhid, jelaslah olehmu bahwa syafaat seluruhnya milik Allah, maka aku memintanya dari Allah Ta’aala.

Maka aku katakan; “Ya Allah, jangan Engkau haramkan aku dari syafaat Nabi-Mu, ya Allah, jadikanlah Nabi-Mu memberikan syafaatnya kepadaku.  Dan ucapan lainnya yang semisal.

Apabila dia berkata; “Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam diberikan kepadanya syafaat dan saya minta syafaat dari pihak yang telah Allah berikan kepadanya.”

Jawabannya; “Allah memberinya syafaat dan melarangmu dari hal ini.” Allah berfirman;

فلا تدع مع الله أحدا

“Maka jangan kamu beribadah kepada seorang pun disamping (ibadahmu kepada) Allah.” (Qs. Jin: 18)

Maka apabila kamu minta kepada Allah agar Nabi-Nya memberikan syafaatnya kepadamu, maka taatilah ucapan Allah, “jangan kamu beribadah kepada seorang pun disamping (ibadahmu kepada) Allah.”

Kemudian ditambah lagi Allah juga berikan syafaat ini kepada selain Nabi. Telah benar riwayatnya bahwa para malaikat memberi syafaat, pada nabi memberi syafaat, dan afrath memberi syafaat. Apa kamu juga mau katakan, sesungguhnya Allah  telah berikan kepada mereka syafaat dan saya minta dari mereka?!

Apabila kamu ucapkan ini, kamu mundur kembali kepada peribadahan orang-orang shalih yang telah Allah sebutkan di dalam kitab-Nya. Tapi apabila kamu katakan “Tidak!” Maka batallah ucapanmu; Allah telah memberi Nabi-Nya syafaat dan saya minta syafaat dari pihak yang telah Allah berikan kepadanya.”

Apabila dia berkata; “Saya tidak menyekutukan Allah sedikit pun. Tidak sama sekali. Tapi bersandar kepada orang-orang shalih bukan kesyirikan.

Maka katakan kepadanya; Apabila kamu mengakui bahwa Allah telah mengharamkan syirik melebihi daripada haramnya zina, dan mengakui bahwa Allah tidak mengampuninya. Maka apa perkara yang telah Allah haramkan ini dan dia sebut bahwa Dia tidak mengampuninya? Sesungguhnya dia tidak mengetahuinya.

Maka terangkanlah; Bagaimana kamu berlepasdiri dari kesyirikan sedangkan kamu tidak mengetahuinya? Atau bagaimana mungkin Allah mengharamkan atas dirimu hal ini dan menyebutkan bahwa Dia tidak mengampuninya, sedangkan kamu tidak bertanya tentangnya dan tidak mengetahuinya? Apa menurutmu Allah mengharamkannya tanpa menjelaskannya kepada kita?

Apabila dia mengatakan; Kesyirikan adalah peribadahan kepada berhala. Dan kami tidak beribadah kepada berhala. Maka katakan kepadanya; Apa arti beribadah kepada berhala? Apa kamu sangka mereka meyakini bahwa kayu-kayu dan batu-batu itu menciptakan dan memberi rizki serta mengendalikan urusan orang yang berdoa kepadanya? Yang seperti ini didustakan oleh Al Qur’an.

Apabila dia berkata; beribadah kepada berhala adalah menjadikan kayu-kayu, batu-batu atau bangunan yang berada diatas kuburan atau selainnya sebagai tujuan, mereka menyerunya dan menyembelih untuknya dan mengatakan bahwa mereka mendekatkan diri-diri kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya, dan Allah menolong kita dengan sebab keberkahan mereka, atau Allah memenuhi permintaan kita dengan sebab keberkahan mereka.

Maka bilang kepadanya; Benar! Dan ini (juga) yang kalian lakukan disisi batu-batu dan bangunan-bangunan yang berada diatas kuburan-kuburan dan selainnya! Berarti disini dia telah mengakui bahwa perbuatan mereka merupakan peribadahan kepada berhala-berhala, dan ini yang diharapkan.

Dan dikatakan juga kepadanya; Ucapanmu kesyirikan adalah peribadahan kepada berhala. Apakah maksudmu bahwa kesyirikan hanya ini saja? Sedangkan bersandar kepada orang-orang shalih, menyeru mereka tidak termasuk ke dalamnya? Hal ini bertentangan dengan apa yang Allah sebutkan di dalam kitab-Nya tentang kafirnya orang yang bergantung kepada para malaikat atau Isa atau orang-orang shalih.

Maka mau tidak mau dia akan mengakui bahwa orang yang menyekutukan Allah dengan beribadah kepada sesuatu (selain Allah) seperti (beribadah kepada) orang-orang shalih adalah kesyirikan yang disebutkan di dalam Al Qur’an. Dan ini yang diharapkan.

Kunci persoalannya adalah; Apabila dia berkata saya tidak menyekutukan Allah! Bilang kepadanya; Apa arti menyekutukan Allah? Jelaskan padaku!

Apabila dia berkata; (Menyeutukan Allah) yaitu beribadah kepada berhala. Katakan; Apa arti beribadah kepada berhala? Jelaskan!

Apabila dia berkata; Saya tidak beribadah kecuali kepada Allah! Bilang kepadanya; Apa arti beribadah kepada Allah? Jelaskan padaku!

Apabila dia menjelaskan sesuai dengan keterangan Al Qur’an, ini yang diharapkan. Tapi apabila dia tidak mengetahuinya, bagaimana dia mengklaim sesuatu sedangkan dia tidak mengetahuinya?! Tapi apabila dia menjelaskan dengan selain makna yang benar, kamu jelaskan kepadanya ayat-ayat yang terang tentang makna kesyirikan kepada Allah dan peribadahan kepada berhala. Dan (jelaskan) bahwa itulah perbuatan yang mereka lakukan di zaman ini. Dan bahwa peribadahan kepada Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya inilah yang mereka ingkari dari kita, dan mereka teriaki (kita) sebagaimana teriakan saudara-saudara mereka yang berkata;

أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ

“Mengapa ia menjadikan ilah-ilah itu Ilah Yang Satu saja. Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. (Qs. Shaad: 5)

Apabila kamu telah mengetahui bahwa inilah perkara yang dinamakan oleh musyrikin zaman kita dengan Kabiirul I’tiqad (keyakinan yang agung), itu juga kesyirikan yang Al Qur’an terangkan, dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerangi manusia karenanya. Ketahuilah bahwa kesyirikan musyrikin dahulu lebih ringan daripada kesyirikan musyirikin zaman kita dari dua sisi;

Pertama; bahwa orang-orang musyrikin dahulu tidak menyekutukan Allah dan tidak menyeru para malaikat dan wali-wali serta menyeru berhala-berhala disamping Allah kecuali disaat lapang saja. Adapun disaat terjepit mereka mengikhlaskan permintaan hanya kepada Allah Ta’aala sebagaimana terdapat pada firman-Nya;

وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَن تَدْعُونَ إِلَّا إِيَّاهُ ۖ فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ ۚ وَكَانَ الْإِنسَانُ كَفُورًا

“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia. Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia adalah selalu tidak berterima kasih.” (Qs. Al Isra’: 67) dan pada firman-Nya;

قُلْ أَرَأَيْتَكُمْ إِنْ أَتَاكُمْ عَذَابُ اللَّهِ أَوْ أَتَتْكُمُ السَّاعَةُ أَغَيْرَ اللَّهِ تَدْعُونَ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ بَلْ إِيَّاهُ تَدْعُونَ فَيَكْشِفُ مَا تَدْعُونَ إِلَيْهِ إِن شَاءَ وَتَنسَوْنَ مَا تُشْرِكُونَ

“Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku jika datang siksaan Allah kepadamu, atau datang kepadamu hari kiamat, apakah kamu menyeru (ilah) selain Allah; jika kamu orang-orang yang benar! (Tidak), tetapi hanya Dialah yang kamu seru, maka Dia menghilangkan bahaya yang karenanya kamu berdoa kepada-Nya, jika Dia menghendaki, dan kamu meninggalkan sembahan-sembahan yang kamu sekutukan (dengan Allah). (Qs. Al An’am: 40-41) dan firman-Nya;

وَإِذَا مَسَّ الْإِنسَانَ ضُرٌّ دَعَا رَبَّهُ مُنِيبًا إِلَيْهِ

“Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Rabbnya dengan kembali kepada-Nya…” sampai kepada firman-Nya;

قُلْ تَمَتَّعْ بِكُفْرِكَ قَلِيلًا ۖ إِنَّكَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

Katakanlah: “Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu; sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka.” (Qs. Az-Zumar; 8) dan juga firman-Nya;

وَإِذَا غَشِيَهُم مَّوْجٌ كَالظُّلَلِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

“Dan apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.”  (Qs. Luqman; 32)

Barangsiapa memahami perkara yang telah Allah terangkan di dalam kitab-Nya ini, yaitu bahwa musyrikin yang dulu diperangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyeru Allah  dan meyeru selain Allah disaat lapang, adapun disaat terjepit dan sempit mereka tidak menyeru kecuali kepada Allah saja tidak ada sekutu bagi-Nya, dan mereka melupakan para wali dan orang-orang shalih, sesembahan-sesembahan mereka (selain Allah), jelaslah baginya perbedaan antara kesyirikan musyrikin di zaman kita dengan musyrikin dahulu. Tapi dimanakah orang yang hatinya memahami perkara ini dengan pemahaman yang dalam?! Hanya Allah tempat memohon pertolongan.

Perkara kedua; Bahwa orang-orang musyrikin dahulu disamping menyeru Allah mereka juga menyeru orang-orang yang dekat kedudukannya disisi Allah seperti para nabi, wali-wali, dan malaikat-malaikat. Atau menyeru pohon-pohon, batu-batu yang mentaati Allah dan tidak bermaksiat. Sedangkan musyrikin zaman kita disamping menyeru Allah mereka malah menyeru orang-orang yang paling fasik dan orang-orang yang dikisahkan melakukan perbuatan-perbuatan keji seperti zina, mencuri, meninggalkan shalat dan lain sebagainya.

Maka tentu orang yang memiliki keyakinan terhadap orang-orang shalih atau yang tidak bermaksiat (sama sekali) seperti kayu dan batu lebih ringan (kesyirikannya) daripada orang-orang yang memiliki keyakinan terhadap pihak-pihak yang disaksikan kefasikan dan kerusakannya dan mereka sendiri mengakuinya.

Apabila telah jelas olehmu bahwa orang-orang yang dahulu diperangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam lebih lurus akalnya dan lebih ringan kesyirikannya daripada mereka, maka ketahuilah bahwa mereka memiliki syubhat-syubhat dalam menyanggah apa yang telah kami sebutkan. Dan syubhat-syubhat ini termasuk syubhat mereka yang paling besar. Maka pasanglah telingamu terhadap jawabannya. Syubhat itu adalah;

Bahwa mereka berkata; Orang-orang yang dibincangkan oleh Al Qur’an tidak bersaksi dengan Laa ilaaha Illallah, mereka mendustakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, mengingkari hari kebangkitan dan mendustakan Al Qur’an, dan menganggapnya sebagai sihir. Sedangkan kami bersaksi dengan Laa ilaaha Illallah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Kami membenarkan Al Qur’an, beriman dengan hari kebangkitan, kami shalat dan puasa. Maka bagaimana kalian jadikan kami seperti mereka?

Jawabannya adalah; Tidak ada perselisihan dikalangan ulama seluruhnya bahwa seseorang apabila membenarkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pada satu urusan dan mendustakan beliau pada urusan lainnya bahwa dia kafir dan belum masuk ke dalam Islam. Begitu pula apabila dia beriman dengan sebagian Al Qur’an dan mendustakan sebagian lainnya, seperti orang yang mengakui tauhid tapi mengingkari kewajiban shalat, atau orang yang mengakui tauhid dan shalat tapi mengingkari kewajiban zakat, atau mengakui ini semua tapi mengingkari puasa, atau mengakui ini semua tapi mengingkari haji. Dan ketika orang-orang tidak mau tunduk di zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kepada ibadah haji Allah menurunkan firman-Nya tentang mereka;

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

“…mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (Qs. Ali Imran: 97)

Dan barangsiapa mengakui ini semua tapi mengingkari hari kebangkitan dia kafir berdasarkan ijma, darah dan hartanya menjadi halal sebagaimana firman-Nya;

إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَن يُفَرِّقُوا بَيْنَ اللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَن يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًا أُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ حَقًّا ۚ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُّهِينًا

“Sesungguhnya orang-orang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan:”Kami beriman kepada yang sebahagian dan kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.” (Qs. An-Nisaa’: 150-151)

Maka apabila Allah telah menerangkan di dalam kitab-Nya bahwa barangsiapa beriman kepada sebagian dan kufur dengan sebagian lainnya maka dia orang kafir yang sesungguhnya hilanglah syubhat ini. Inilah syubhat yang disebutkan oleh sebagian penduduk Al Ahsa’ pada kitabnya yang dia kirim kepada kami.

Dan dikatakan juga, apabila kamu mengakui bahwa orang yang membenarkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pada semua urusan tapi mengingkari kewajiban shalat bahwa dia kafir halal darah dan hartanya berdasarkan ijma, begitu pula apabila dia mengakui ini semua kecuali hari kebangkitan, atau mengingkari kewajiban puasa Ramadhan dan membenarkan itu semua, mazhab-mazhab yang ada tidak berselisih pendapat tentang orang ini, dan Al Qur’an telah menjelaskan sebagaimana sudah kami sebutkan keterangannya.

Dan diketahui bahwa tauhid adalah kewajiban yang paling besar yang dibawa oleh Nabi Shallalahu ‘Alaihi Wasallam. Dia lebih agung daripada shalat, zakat, puasa, dan haji. Maka bagaimana bisa apabila seseorang mengingkari salah satu dari perkara ini dia kafir walaupun disamping itu dia mengamalkan semua yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tapi apabila yang diingkari adalah tauhid yang merupakan agama para rasul seluruhnya dia tidak menjadi kafir?! Subhanallah, alangkah ajaibnya kejahilan ini!

Dikatakan juga; Mereka pada shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah memerangi Bani Hanifah padahal mereka telah masuk Islam dihadapan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, bersaksi dengan Laa ilaaha Illallah dan Muhammad utusan Allah, menegakkan azan dan mengerjakan shalat.

Apabila dia menyanggah, “Bani Hanifah menganggap bahwa Musailamah seorang nabi.” Katakanlah; Ini yang kita cari! Apabila mengangkat seseorang kepada derajat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam maka dia kafir halal harta dan darahnya, dua kalimat syahadat dan shalatnya tidak berguna. Maka bagaimana dengan orang yang mengangkat Syimsan atau Yusuf atau seorang shahabat atau nabi ke derajat penguasa tujuh lapis langit dan bumi? Subhanallah, alangkah dahsyat perkara ini! “Demikianlah Allah mengunci mati hati orang-orang yang tidak (mau) memahami.” (Qs. Rum; 59)

Dan dikatakan juga; Orang-orang yang dibakar oleh Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu dengan api, semua mereka mengaku muslim dan mereka termasuk para pengikut Ali Radhiyallahu ‘Anhu dan belajar ilmu dari para shahabat. Tapi mereka memiliki keyakinan terhadap Ali seperti keyakinan terhadap Yusuf, Syimsan dan yang semisal dengan mereka. Lihatlah bagaimana para shahabat sepakat membunuh mereka dan mengkafirkan mereka. Apa kalian sangka para shahabat mengkafirkan muslimin?! Atau kalian sangka bahwa keyakinan terhadap Taj dan yang semisalnya tidak mencederai (keimanan) sedangkan keyakinan terhadap Ali  Radhiyallahu ‘Anhu  pelakunya dikafirkan?!

Dan dikatakan juga; Bani Ubaid Al Qaddah yang menjadi penguasa Magrib dan Mesir di zaman Bani Abbas semua mereka bersaksi dengan Laa ilaaha Illallah dan bahwa Muhammad utusan Allah. Mereka mengaku muslim, shalat jumat dan menegakkan shalat berjamaah. Ketika mereka menampakkan pertentangan terhadap syariat pada urusan yang lebih ringan dari pembicaraan kita, ulama sepakat akan kekafiran mereka dan memerangi mereka dan mencap bahwa negeri mereka ada negeri perang dan muslimin memerangi mereka sampai akhirnya berhasil menyelamatkan negeri-negeri muslimin yang berada di bawah kekuasaan mereka.

Dikatakan juga; Apabila musyrikin dahulu tidak menjadi kafir kecuali disebabkan mereka menggabungkan antara kesyirikan dan pendustaan kepada rasul dan Al Qur’an dan mengingkari kebangkitan dan perkara lainnya, lalu apa maksud dari bab yang disusun para ulama pada semua mazhab “bab hukum orang yang murtad” yaitu seorang muslim yang menjadi kafir setelah keislamannya. Kemudian mereka menyebutkan berbagai macam (kekufuran) yang banyak, masing-masing darinya seseorang dikafirkan dan dihalalkan darah dan hartanya. Sampai-sampai mereka menyebutkan perkara-perkara yang ringan di sisi orang yang mengerjakannya seperti melontarkan kata-kata dengan lisannya tanpa keyakinan hati atau perkataan yang dia ucapkan bercanda dan main-main saja.

Dikatakan juga; Orang-orang yang Allah sebutkan tentang mereka;

يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ مَا قَالُوا وَلَقَدْ قَالُوا كَلِمَةَ الْكُفْرِ وَكَفَرُوا بَعْدَ إِسْلَامِهِمْ

“Mereka bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah keislaman mereka…” (Qs. At-Taubah; 73) tidakkah kamu dengar Allah mengkafirkan mereka disebabkan sebuah ucapan padahal mereka berada di zaman Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, berjihad bersamanya,  mengerjakan shalat, zakat, haji dan mentauhidkan-Nya?!

Begitu pula orang-orang yang Allah ceritakan tentang mereka pada firman-Nya;

قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ ۚ

“Katakanlah:”Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”. Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman.” (Qs. At-Taubah; 96)

Mereka adalah orang-orang yang terang-terangan Allah katakan telah kafir setelah keimanan mereka. Padahal mereka bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di perang Tabuk. Mereka mengucapkan sebuah ucapan yang mereka katakan bahwa mereka mengucapkannya bercanda. Maka perhatikanlah syubhat ini yaitu ucapan mereka; “Kalian mengkafirkan muslimin, orang-orang yang bersyahadat dengan Laa ilaaha Illallah, shalat dan puasa!” Kemudian perhatikan pula jawabannya, karena ini diantara yang paling berharga yang terdapat pada lembaran-lembaran ini.

Diantara dalil akan hal ini juga adalah apa yang telah Allah kisahkan tentang Bani Israil disamping keislaman, keilmuan dan keshalihan mereka, mereka berkata kepada Musa Alaihis Salam;

إجعل لنا إلها كما لهم آلهة

“Buatkanlah untuk kami ilah seperti mereka memiliki ilah-ilah.” (Qs. Al A’raf; 137) dan ucapan sebagian shahabat (yang mengatakan);

اجعل لنا ذات أنواط …

Buatkan untuk kami Dzatu Anwath... lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersumpah bahwa ucapan ini persis dengan yang pernah diucapkan oleh Bani Israil; “Buatkanlah untuk kami ilah…”

Tapi orang-orang musyrikin itu memiliki syubhat seputar kisah ini yaitu mereka mengatakan; “Sesungguhnya Bani Israil tidak menjadi kafir dengan sebab ucapannya itu, begitu pula orang-orang yang berkata kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Buatkan untuk kami Dzatu Anwath…” mereka tidak kafir.”

Maka sanggahannya adalah kita katakan bahwa Bani Israil tidak sampai melakukan itu begitu pula orang-orang yang minta kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak sampai melakukannya. Dan tidak ada perselisihan apabila Bani Israil sampai melakukannya mereka menjadi kafir. Begitu pula tidak ada perselisihan bahwa orang-orang yang dilarang oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam apabila mereka tidak mentaatinya dan tetap membuat Dzatu Anwath setelah adanya larangan mereka kafir. Dan ini yang dimaukan.

Namun kisah ini mengajarkan bahwa seorang muslim bahkan orang yang berilmu terkadang jatuh kepada jenis-jenis kesyirikan yang dia tidak ketahui. Dan mengajarkan perlunya belajar dan berhati-hati. Dan bahwasanya ucapan seorang yang jahil bahwa perkara tauhid kami sudah paham, adalah kejahilan yang paling besar dan tipu daya syaithan.

Dan ia juga mengajarkan bahwa seorang muslim yang berijtihad apabila dia mengucapkan ucapan kekufuran sedangkan dia tidak mengetahui lantas diingatkan dan bertaubat saat itu juga dia tidak kafir seperti yang dilakukan oleh bani Israil dan orang-orang yang minta kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Dan mengajarkan juga bahwa meskipun dia tidak kafir dia tetap ditegur dengan sangat keras sekali seperti yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Kemudian orang-orang musyrik itu (masih) memiliki syubhat yang lain. Mereka mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengingkari perbuatan Usamah yang membunuh orang yang telah mengucapkan Laa ilaaha Illallah. Begitu pula ucapan beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, “Saya diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan Laa ilaaha Illallah..”, dan hadits-hadits lainnya tentang perintah menahan diri dari orang yang telah mengucapkannya (syahadat). Yang dimaukan oleh orang-orang jahil ini adalah bahwa orang yang sudah mengucapkannya (syahadat) tidak menjadi kafir, tidak dibunuh walaupun mereka melakukan apa yang mereka lakukan.

Maka dikatakan kepada mereka orang-orang musyrik yang jahil ini; Dimaklumi bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerangi Yahudi dan menawan mereka sedangkan orang-orang Yahudi sudah mengucapkan Laa ilaaha Illallah. Dan para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerangi Bani Hanifah dan mereka bersaksi dengan Laa ilaaha Illallah dan Muhammad utusan Allah, mereka shalat dan mengaku muslim. Begitu pula orang-orang yang dibakar dengan api oleh Ali bin Abi Thalib.

Mereka orang-orang jahil itu mengakui bahwa siapa saja mengingkari kebangkitan dia kafir dan dibunuh walaupun mengucapkan Laa ilaaha Illallah. Dan barangsiapa mengingikari satu dari rukun-rukun Islam kafir dan dibunuh walaupun dia mengucapkan syahadat. Maka bagaimana bisa kalimat ini tidak berguna baginya apabila dia mengingkari salah satu cabang persoalan (di dalam Islam), tapi kalimat ini tetap berguna apabila dia mengingkari tauhid yang merupakan pokok ajaran para nabi dan pangkalnya?! Akan tetapi musuh-musuh Allah itu tidak memahami makna dari hadits-hadits.

Adapun hadits Usamah sesungguhnya dia telah membunuh seseorang yang mengaku muslim disebabkan dia menyangka orang ini tidak mengaku muslim kecuali karena takut terhadap darah dan hartanya. Dan seseorang kapan dia menampakkan Islam wajib menahan diri darinya sampai jelas dari dia hal-hal yang melanggarnya. Kemudian Allah turunkan berkenaan dengan peristiwa ini firman-Nya;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا ضَرَبْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَتَبَيَّنُوا

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah…”(Qs. An-Nisaa; 94) maksudnya cek dan ricek lagi.

Ayat ini menunjukkan kewajiban menahan diri dan cek ricek dulu. Apabila jelas setelah itu bahwa orang ini menyelisihi Islam maka dia dibunuh berdasarkan firman Allah Ta’aala; “Maka telitilah!Karena apabila tidak dibunuh maka cek ricek disini tidak ada gunanya.

Dan begitu pula hadits lain yang semisal dengannya artinya adalah seperti yang telah kami ketengahkan bahwa barangsiapa menampakkan tauhid dan Islam, seseorang wajib menahan diri darinya sampai jelas darinya hal-hal yang membatalkannya. Dalil akan hal ini bahwa Rasululllah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkata;

أقتلته بعد ما قال لا إله إلا الله

“Apakah kamu membunuhnya setelah dia mengucapkan Laa ilaaha Illallah.

Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda;

أمرت أن أقاتل الناس حتى يقولوا لا إله إلا الله

“Saya diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi dengan Laa ilaaha Illallah.” Beliau yang mengatakan ini dan beliau pula yang berkata tentang Khawarij,

أينما لقيتموهم فاقتلوهم لئن أدركتهم لأقتلنهم قتل عاد

“Dimana pun kalian dapati mereka perangilah mereka. Karena jika aku menemui mereka akan aku bunuh mereka seperti tidak tersisa seorang pun dari mereka.” Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ucapkan ini dalam kondisi orang-orang Khawarij itu adalah orang-orang yang paling banyak ibadahnya, paling banyak tahlil dan tasbihnya. Sampai-sampai para shahabat merasa kecil disisi mereka. Mereka belajar ilmu dari para shahabat, tapi tidak berguna bagi mereka ucapan Laa ilaaha Illallah, tidak pula banyaknya ibadah mereka dan klaim mereka sebagai muslim ketika tampak dari mereka bahwa mereka melanggar syariat.

Begitu pula yang telah kami sebutkan tentang memerangi orang-orang Yahudi, dan juga para shahabat yang memerangi Bani Hanifah. Begitu pula Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang ingin memerangi Bani Musthaliq ketika seorang laki-laki mengabarkan bahwa mereka menolak membayar zakat, hingga Allah turunkan firman-Nya;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti…” (Qs. Al Hujurat; 6) dan ternyata orang tersebut berbohong tentang mereka. Seluruhnya ini menunjukkan bahwa maksud  Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pada hadits-hadits yang mereka jadikan alasan adalah seperti yang telah kami sebutkan.

Dan mereka memiliki syubhat yang lain. Yaitu hadits yang disebutkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bahwa manusia di hari kiamat beristighatsah kepada Adam, kemudian kepada Nuh, kemudian kepada  Ibrahim, kemudian kepada Musa, dan kemudian kepada Isa. Mereka semua menolak hingga akhirnya orang-orang itu sampai kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Mereka mengatakan; Hadits ini dalil bahwa istighatsah kepada selain Allah bukan kesyirikan!

Jawabannya adalah kita katakan; Maha suci Allah yang telah menutup hati musuh-musuh-Nya. Karena sesungguhnya istighatsah kepada makhluk pada urusan yang disanggupi, tidak kita ingkari. Seperti yang terdapat pada kisah Musa;

فَاسْتَغَاثَهُ الَّذِي مِن شِيعَتِهِ عَلَى الَّذِي مِنْ عَدُوِّهِ

“Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya (Qs. Al Qashash; 15).

Dan seperti seseorang yang beristighatsah kepada teman-temannya dalam peperangan atau selainnya dalam urusan yang disanggupi makhluk. Tapi yang kami ingkari adalah istighatsah ibadah yang mereka lakukan di kuburan-kuburan wali, atau pada situasi ketidakhadiran orang yang dimintai pertolongan dalam urusan yang tidak disanggupi kecuali oleh Allah.

Apabila telah jelas hal ini maka istighatsah mereka dengan para nabi di hari kiamat dimana mereka ingin agar para nabi tersebut berdoa kepada Allah agar manusia dihisab hingga ahli surga terbebas dari kengerian padang Mahsyar, perbuatan seperti ini boleh hukumnya di dunia dan di akhirat. Yaitu seperti kamu datang kepada orang shalih yang masih hidup dia duduk denganmu dan mendengar ucapanmu, kamu bilang kepadanya; “Tolong doakan saya.” Begitu pula seperti dahulu para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam minta doa kepada beliau disaat hidupnya. Adapun setelah wafat sama sekali mereka tidak minta hal itu disisi kuburannya. Bahkan salaf mengingkari orang-orang yang berdoa kepada Allah disisi kuburannya, apalagi sampai minta kepadanya?!

Dan mereka memiliki syubhat yang lain, yaitu kisah Ibrahim Alaihissalam saat dilempar ke dalam api. Datang kepadanya malaikat Jibril di langit seraya berkata; “Apa yang bisa saya bantu?” Ibrahim berkata; “Adapun kepadamu aku tidak perlu.” Mereka berkata, kalau istighatsah kepada Jibril syirik tentu dia tidak menawarkan bantuan kepada Ibrahim.

Sanggahannya adalah, bahwa ini termasuk ke dalam syubhat yang pertama. Karena disini Jibril menawarkan kepadanya untuk membantunya dalam perkara yang dia sanggupi. Karena dia seperti yang Allah terangkan; “…sangat kuat.” (Qs. An-Najm; 5).  Apabila Allah izinkan kepadanya untuk mengambil api yang membakar Ibrahim dan apa-apa yang ada disekitarnya dari bumi, gunung dan melemparkannya ke timur atau barat maka dia sanggup melakukannya. Dan kalau Allah perintahkan kepadanya untuk meletakkan Ibrahim di satu tempat yang jauh dari kaumnya dia sanggup melakukannya. Dan kalau Allah perintahkan dia untuk mengangkat Ibrahim ke langit dia juga sanggup melakukannya. Analoginya seperti seorang kaya dan hartawan yang melihat orang membutuhkan kemudian dia menawarkan kepadanya pinjaman atau pemberian yang dengannya orang itu bisa mencukupi kebutuhannya, kemudian si miskin ini menolak menerima tawaran tadi dan memilih untuk sabar sampai Allah datangkan rizki tanpa harus punya hutang jasa kepada siapa pun. Jelas berbeda antara kasus ini dengan istighatsah ibadah dan syirik kalau mereka bisa memahami.

Mari kita tutup pembicaraan ini insyaallah dengan sebuah persoalan besar dan penting sekali dan sudah diisyaratkan sebelumnya, tapi sengaja dikhususkan disini mengingat besarnya perkara ini dan banyaknya orang yang keliru disini.

Kami katakan; Tidak ada silang pendapat bahwa tauhid harus dengan hati, lisan dan perbuatan. Apabila tidak terpenuhi salah satunya seseorang belum berislam. Apabila dia mengenal tauhid tapi tidak mengamalkannya maka dia kafir, membangkang seperti Fir’aun dan Iblis dan yang serupa dengan mereka. Banyak sekali orang keliru dalam hal ini. Mereka berkata; Ini benar dan kami paham, kami bersaksi bahwa ini kebenaran. Tapi kami tidak sanggup mengikutinya, tidak boleh di negeri kami kecuali sejalan dengan mereka, dan yang lain sebagainya dari alasan-alasan yang mereka kemukakan. Orang ini tidak tahu bahwa kebanyakan pimpinan kekufuran mengetahui kebenaran dan mereka tidak meninggalkan kebenaran itu kecuali karena salah satu dari alasan-alasan tadi, sebagaimana yang Allah Ta’aala ceritakan;

اشْتَرَوْا بِآيَاتِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا

“Mereka menukar ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit…” (Qs. At-Taubah; 9) dan juga ayat-ayat lainnya seperti;

يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ

“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Alkitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri…” (Qs. Al Baqarah; 146)

Dan apabila dia mengamalkan tauhid secara lahir sedangkan dia tidak memahaminya atau tidak meyakininya dengan hatinya maka dia munafik, dia lebih jelek daripada orang kafir asli sebagaimana firman-Nya;

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka…” (Qs. An-Nisaa’; 145)

Ini merupakan perkara yang besar dan panjang (pembahasannya), akan jelas bagimu jika kamu perhatikan ucapan manusia, kamu dapati orang-orang yang mengetahui kebenaran tapi tidak mau mengamalkannya karena khawatir dunianya berkurang, atau kedudukannya atau berbasa-basi dengan orang lain. Dan kamu dapati orang yang mengamalkannya secara lahir, bukan batin apabila kamu tanya kepadanya akan apa yang dia yakini dengan hatinya ternyata dia tidak tahu apa-apa. Maka wajib atasmu memahami dua ayat dari Kitabullah berikut ini;

Yang pertama firman Allah Ta’aala;

لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ ۚ

“Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman…” (Qs. At-Taubah; 96)

Karena apabila telah jelas bagimu bahwa sebagian shahabat yang memerangi Romawi bersama Rasulullah Shaallahu ‘Alaihi Wasallam menjadi kafir disebabkan satu kata yang mereka ucapkan karena bercanda dan senda gurau saja jelaslah olehmu bahwa orang yang mengucapkan kekufuran atau mengerjakannya karena takut dunianya berkurang atau khawatir akan kedudukannya, atau karena berbasa-basi dengan seseorang, dia lebih jelek daripada orang yang mengeluarkan kata-kata kufur dengan main-main.

Ayat kedua adalah firman-Nya;

مَن كَفَرَ بِاللَّهِ مِن بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَٰكِن مَّن شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ  ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمُ اسْتَحَبُّوا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى الْآخِرَةِ

“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orangyang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar. Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan dunia lebih dari akhirat…” (Qs. An-Nahl; 106)

Disini Allah tidak mengudzur mereka kecuali orang yang dipaksa dan hatinya menetapi keimanan. Adapun selain itu maka dia telah kafir setelah keimanannya, apakah dia mengerjakannya karena takut, atau berbasa-basi, atau karena kecintaannya kepada negerinya atau kepada keluarganya, handai taulannya atau kepada hartanya, atau dia mengerjakannya bercanda atau tujuan lainnya, kecuali orang yang dipaksa.

Ayat diatas merupakan dalil akan hal ini dari dua sisi;

Pertama, firman-Nya “Kecuali orang yang dipaksa” Allah tidak mengecualikan selain orang yang dipaksa. Dan diketahui bahwa seseorang tidak dipaksa kecuali pada ucapan atau perbuatan. Adapun akidah hati tidak seorang pun bisa memaksanya.

Kedua, firman-Nya “yang demikian itu karena mereka lebih mencintai kehidupan dunia daripada akhirat” terang-terangan dikatakan bahwa kekufuran dan adzab ini tidak terjadi dikarenakan keyakinan atau kejahilan atau benci kepada agama atau kecintaan kepada kekufuran tapi disebabkan bahwa dia punya tujuan dari tujuan-tujuan duniawi sehingga dia mendahulukannya dari agama. Dan hanya Allah Ta’aala yang Maha Mengetahui. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, dan kepada para pengikutnya dan shahabatnya sekalian.

Tajurhalang, Bogor 23 Oktober 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *