Hampir semua penuntut ilmu syar’i tahu kitab “Kasyf Syubuhat”. Buah karya fenomenal seorang mujaddid abad ke 12 hijriyah Muhammad bin Abdul Wahhab. Isinya mengupas kerancuan pemahaman seputar tauhid. Sebagian ulama ada yang merinci syubhat-syubhat yang disebutkan di dalamnya menjadi 15 macam syubhat dan sebagian lainnya ada yang merincinya kuran dari itu atau lebih.

Namun disamping kepopuleran kitab ini ditengah penerus dakwah, ternyata tidak banyak yang tahu untuk siapa kitab ini ditulis. Kebanyakan mereka menyangka kitab ini ditulis untuk barisan musyrikin, dan mereka keliru. Karena kenyataannya kitab ini justru ditulis untuk ahli tauhid, para penerus dakwah agar memiliki bashirah terhadap syubhat musyrikin dan tidak mudah terbawa arus pemahamah yang keliru terhadap tauhid.

Dikatakan dalam kitab Tarikh Najd bahwa penulisnya tidak menyusun karyanya ini untuk orang musyrik melainkan ditujukan kepada setiap muslim ahli tauhid agar mampu menyingkap kerancuan musuh-musuh tauhid.

Asy-Syaikh Husain bin Ghannam rahimahullah berkata,

“Kemudian Asy-Syaikh (penulis) menyusun sebuah risalah bagi khalayak muslimin disebut dengan “Kasy Syubuhat” sebagai jawaban terhadap berbagai macam syubhat yang mereka sebutkan pada tulisan-tulisan mereka.”

Ini yang pertama. Kemudian yang kedua, secara khusus ternyata kitab ini ditulis sebagai bantahan terhadap syubhat-syubhat ulama Al Ahsa’, diantara mereka adalah imam dan sekaligus rujukan utama muslimin dan ulama dunia saat itu, yaitu sebelum tampak darinya pertentangannya terhadap dakwah tauhid, yaitu Al Imam Al ‘Allamah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdillah bin Muhammad bin Fairuz yang populer disebut dengan Ibnu Fairuz.

Asy-Syaikh Al Faqih Abdullah Al Bassam rahimahullah berkata,

“Dialah yang melontarkan syubhat-syubhat yang dibantah oleh Asy-Syaikh dalam kitabnya “Kasyf Syubuhat”.[1]

Siapakah Ibnu Fairuz ini? Kenapa Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah membantahnya? Dan apa saja syubhat-syubhatnya? Berikut ini kami ringkas biografinya dari beberapa sumber;

Dia adalah Al ‘Allamah Abu Abdurrahman Muhammad bin Abdillah bin Muhammad bin Fairuz At-Tamimi Al Ahsa’i. Seorang pengibar panji perlawanan terhadap dakwah Asy-Syaikh Al Mujaddid Al Imam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah. Rujukan utama para penentang dakwah tauhid.

Allah memanjangkan umurnya hingga menyaksikan kejayaan dakwah tauhid di Najd, kemudian meluas sampai menyentuh Al Ahsa’, tanah kelahiran dan markas dakwahnya. Dengan jatuhnya Al Ahsa’ kepangkuan dakwah tauhid penduduknya merasakan kedamaian dan keamanan di bawah naungan akidah yang shahihah. Bahkan banyak dari ulama Al Ahsa’ yang pindah ke Dir’iyyah dan bertemu dengan para ulama dakwah dan pimpinannya. Kemudian mereka kembali ke kampung halamannya di Al Ahsa’ berdakwah kepada tauhid dan membela kehormatannya dari para penentangnya yang masih ada disana. Sampai akhirnya gubernurnya yaitu Barrak bin Abdul Muhsin mengusir para pemimpin fitnah seperti Ibnu Fairuz, Ahmad bin Hubail dan Muhammad bin Su’dun keluar Al Ahsa’. Dan setelah kepergiannya dari Al Ahsa’ Ibnu Fairuz tidak berhenti dari menginginkan kehancuran dakwah tauhid dan para pembelanya. Bahkan dia termasuk orang yang paling bersemangat menyulut api perang antara Kekhalifahan Ottoman di Turki dengan negeri tauhid di Dir’iyyah saat itu.

Ibnu Fairuz adalah seorang imam yang alim, ahli wara’ yang bertakwa dan sangat zuhud kehidupannya. Ia lahir di kota Al Ahsa’ pada tahun 1142 H dan besar dalam asuhan ayahnya. Sejak kecil sudah tampak kesungguhan dalam menuntut ilmu. Ia mengalami kebutaan akibat cacar pada usia sembilan tahun, sumber lain mengatakan tiga tahun. Hafal Al Qur’an luar kepala, cepat memahami dan tidak mudah lupa. Dia berhasil menghafal banyak kitab-kitab ulama seperti Mukhtashar Al Muqni’ dalam ilmu fikih, Alfiyah Al ‘Iraqi dalam ilmu hadits, Alfiyah Ibnu Malik dalam ilmu nahwu. Begitu pula Alfiyah As-Suyuthi, Alfiyah Ibnu Wardi, Laamiyatul Af’aal, Al Khazrajiyyah dan kitab-kitab lainnya.

Belajar Al Qur’an dan hadits dari Al ‘Allamah Al Muhaqqiq Muhammad bin Abdurrahman bin Afaliq Al Ahsa’i dan ayahnya sendiri. Dan secara khusus belajar fikih dari sang ayah dan dari Asy-Syaikh Ibnu Afaliq ia belajar ilmu waris, hisab dan teknik sipil.

Belajar nahwu, sharf dan ma’ani dari Asy-Syaikh Abdullah bin Abdul Lathif. Selain ulama-ulama yang telah disebutkan, ia juga belajar kepada Asy-Syaikh Al Hafidz Al Musnid Abul Hasan As-Sindi, Asy-Syaikh Al ‘Allamah Muhammad Said Safar Al Madani, Asy-Syaikh Sulthan Al Juburi Al Baghdadi, Asy-Syaikh Muhammad Hayat As-Sindi dan banyak lagi.

Beliau sangat mahir dalam berbagai disiplin ilmu dan ikut terjun mengajari siapa saja yang mau belajar kepadanya. Ia berfatwa di masa guru-gurunya masih hidup, dan orang-orang mentranskrip jawaban dan fatwa-fatwanya dan memujinya.

Kemudian disamping itu beliau juga seorang penulis, dan orang-orang datang berguru kepadanya dari berbagai penjuru negeri.

Negeri-negeri sekitar sangat memujinya, minta bimbingan, petunjuk dan doa darinya. Dan mereka minta kepadanya agar dikirimi dai-dai yang mengajari mereka ilmu agama, menyampaikan nasihat, memimpin shalat dan khutbah. Dan hampir tidak ada seorang pun yang belajar kepadanya dengan serius kecuali menjadi alim yang bermanfaat.

Dan diantara murid-muridnya yang dikenal dalam keilmuannya hingga menjadi penulis adalah Asy-Syaikh Al ‘Allamah, Ahli Faraidh di zamannya, Muhamad bin Sallum, dan Asy-Syaikh Al Faqiih Utsman bin Jami’ dan anaknya seorang ahli sastra lagi cerdas Asy-Syaikh Abdullah bin Utsman, dan seorang peneliti yang kritis Asy-Syaikh Abdul Aziz bin ‘Adwan bin Razin dan selain mereka dari penduduk Al Ahsa’ dan selainnya seperti Bahrain dan Bashrah. Bahkan pada masanya tidak dikenal seorang pun yang begitu harum dan populer namanya melebihi Ibnu Fairuz ini hingga ia dijuluki dengan sebutan Syaikh Zaman (Ulama zaman)

Tubuhnya tidak tinggi, tampak padanya cahaya dan tanda yang jelas akan keilmuan dan keshalihan. Karena itu ia sangat disegani raja-raja dan jajarannya. Ucapannya didengar, isyaratnya ditaati. Hingga Sultan Abdul Hamid Khan (Abdul Hamid II), Khalifah terakhir dari Turki Utsmani minta bantuan kepadanya dalam memerangi dakwah Al Mujaddid Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah yang dituduhnya Khawarij dan bughat!!

Ia menulis bantahan kepada dakwah tauhid dan menampakkan penolakan. Membuat buku yang menerangkan kesalahan-kesalahan Asy-Syaikh Muhammad dan dakwahnya dan memperingatkan ummat agar menjauhinya. Karena itu dia termasuk musuh terbesar dan Asy-Syaikh Muhammad mengkafirkannya dan menjadikannya sebagai contoh dan model orang yang tersesat disamping keluasan ilmunya. Dan alangkah banyak mereka.

Ia dan beserta beberapa ulama lainnya yang menentang dakwah diusir keluar dari Al Ahsa’. Ia pergi meninggalkan tanah kelahiran dan markas dakwahnya dengan membawa semua keluarga dan anak-anaknya pindah ke Bashrah. Kepergiannya diikuti oleh murid-muridnya, sebagiannya ada yang menempuh jalur darat dan ada yang melewati laut.

Di Bashrah dia sangat dimuliakan sekali. Para pembesar dan penduduk berbondong-bondong menyambut kedatangannya. Dia diminta mengajar Shahih Al Bukhari hingga masjid raya Bashrah penuh sesak oleh penuntut ilmu sampai akhirnya penguasa Bashrah ketika itu perlu memperluasnya.

Diantara sifatnya yang terpuji adalah akhlaknya yang tinggi, berani dalam menyampaikan kebenaran, rajin beribadah dan berdzikir, sedikit sekali tidur untuk mengisi malam harinya dengan shalat. Diceritakan bahwa setiap selesai shalat Asar ia wirid hingga menjelang Maghrib dan tidak seorang pun berani mengganggunya.

Diantara sifatnya juga kedermawan, sampai-sampai diceritakan bahwa ia tidak pernah sekali pun menolak orang-orang yang minta sedekah kepadanya. Ia berkata, “Saya malu kepada Allah.” Sangat pemaaf dan tidak pelit dalam memberikan nasihat. Suka mendahulukan orang lain dari kepentingannya sendiri, sampai-sampai dikisahkan bahwa ia menanggung di rumahnya penghidupan tujuh puluh orang lebih dari selain keluarganya. Sangat ridha dengan takdir dan menerima keputusan Rabnya. Tidak ada di zamannya yang melebihi kemuliaannya, ketokohan dan kepopulerannya.

Pada malam Jum’at di awal Muharram tahun 1216 H ia wafat dalam usia 75 tahun dan dishalatkan di masjid raya Bashrah dan dikubur bersebelahan dengan kuburan shahabat Zubair bin Awwam Radhiyallahu Anhu.

Maksud dari mengenal keilmuan dan kepribadian yang istimewa dari seorang Ibnu Fairuz ini adalah bahwa ilmu yang dalam dan popularitas yang tinggi bukan jaminan bahwa seseorang lebih mendapat hidayah dan petunjuk daripada orang lain. Sehingga seseorang tidak menolak kebenaran hanya karena menurutnya orang yang membawanya tidak lebih berilmu dan populer dibandingkan panutannya selama ini.

Kedua bahwa hendaknya seorang dai tidak menjadikan popularitas sebagai alasan untuk tidak berdakwah. Jelas bahwa Asy-Syaikh Muhammad disamping Ibnu Fairuz saat itu mungkin bukan siapa-siapa. Bahkan namanya buruk karena dirusak oleh musuh-musuhnya. Orang-orang menuduhnya Khawari sampai-sampai ia diperangi oleh sekaliber Khalifah. Tapi dengan ketakwaan dan tawakkal yang tinggi Allah akhirnya memberikan baginya kemenangan dan bagi dakwahnya kejayaan.

Diringkas dengan sedikit penyesuaian dari As-Suhub Al Wabilah, Muhammad bin Abdillah bin Humaid (w. 1295 H) jilid 3 halaman 969-980 beserta catatan kaki.

 

 

[1] Ulama Najd (1/143)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *