“Afif, sekarang giliranmu untuk maju.” Tutur syaikh saat itu sambil meminta Afif untuk menjelaskan tugas yang diberikan beberapa hari yang lalu.

Afif, ikhwan asli Jakarta itu, segera maju memperbaiki posisi kacamatanya dengan tangan kanannya yang dihiasi jam tangan hitam.

Ia mulai menjelaskan namun terbata-bata. Seolah-olah ada sesuatu yang mengganjal lidahnya untuk memaparkan ‘’wajibat almanzil” (tugas rumah) hingga pada detik kesekian ia berhenti total. Tak bisa lagi mengungkapkan sesuatu dan selalu saja begitu.

“Duduklah.” Syaikh memerintahkannya kembali ke kursinya. Kembali Afif menyandarkan diri sambil menghembuskan nafasnya.

Syaikh memandangnya. Beliau heran kenapa Afif selalu saja begitu padahal dia adalah mahasiswa yang mampu dalam akademik.

“Kenapa fif? Apa yang kamu pikirkan? Badanmu selalu dalam kelas tapi pikiranmu entah melanglang buana kemana. Kamu selalu saja begini. Ada masalah apa? Kamu terlihat letih di kelas.”

Pertanyaan syaikh membuat Afif terdiam. Pandangan mata Afif seolah tembus jauh meninggalkan ruang kelas. Di luar sana, ada sosok yang membuatnya selalu gundah dan berpikir.

Dia masih terdiam seiring semakin dinginnya AC yang bergerombol menyapu sudut ruang kelas Lipia. Syaikh memberikannya kesempatan berbicara.

Ketua kelas mencoba menjelaskan ke syaikh:

“Afif sepulang dari kampus langsung pergi ke tempat kerja, syaikh. Dan baru pulang ke sakan (asrama) jam sebelas malam. Saya tahu Afif letih dan kurang istirahat.”

Syaikh kembali menoleh ke Afif dan bertanya:

“Kenapa kamu bekerja?”

Berat sekali Afif menjawab dan syaikh tetap menunggu.

“Ibu dan adik saya yang cewek butuh uang, wahai syaikh.”

“Baik. Kamu kerja 10 jam. Kapan kamu belajar?”

“Pas pembeli lagi sepi.”

“Berapa gajimu?”

“Kurang dari sejuta.”

“Apa? Kenapa sedikit sekali? Dengan keletihan seperti itu hanya segitu gaji kamui?”

“Iya syaikh”

“Berapa hafalanmu?”

“15 Juz wahai syaikh.”

“Sekarang saya akan hubungi seorang teman dan minta agar bisa bantu kamu ngasi 1 juta perbulan tapi dengan syarat kamu hubungi bos kamu. Aku minta kamu keluar dari pekerjaan. Kamu harus fokus belajar di sini.”

Afif mengangguk tanda setuju. Keesokan harinya syaikh memberikannya uang 1 juta.

_____
Untuk masalah ilmu, syaikh tak akan tanggung-tanggung mengeluarkan dananya. Kami yakin bahwa uang yang beliau keluarkan itu dari beliau sendiri, bukan orang lain.

Beliau paham bahwa ilmu adalah pondasi Islam dan merupakan salah satu prinsip baku Ahlussunnah waljama’ah. Dakwah yang tidak terpondasikan di atas ilmu akan rapuh dan terkikis seiring ganasnya zaman.

Ada kesan sensitif ketika mendengar ketidakmampuan ekonomi para muridnya. Beliau rela mengeluarkan uangnya untuk keberlangsungan prosesa belajar para muridnya yang merupakan amanat dari Allah. Kami melihat eliau adalah lelaki penyayang dan begitu disayangi.

Menyaksikan episode kehidupan beliau ini, kami teringat sebuah ungkapan emas syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’diy dalam tafsirnya yang mengungkapkan bahwa shalat dan infaq/sedekah adalah dua sejoli yang begitu kerapkali Allah sanding dan gandengkan dalam sebuah kalimat atau ungkapan dalam al-Qur-an maupun hadits-hadits sang nabi.

Syaikh as-Sya’di menuturkan:

كثيرا ما يجمع تعالى بين الصلاة والزكاة في القرآن لأن الصلاة متضمنة للإخلاص للمعبود والزكاة والنفقة متضمنة للإحسان على عبيده فعنوان سعادة العبد إخلاصه للمعبود وسعيه في نفع الخلق كما أن سقاوة العبد عدم هذين الأمرين منه ولا إخلاص ولا إحسان

“Shalat dan zakat adalah hal yang begitu dominan Allah gandengkan dalam al-Qur-an. Dalam shalat terkandung keikhlasan terhadap yang disembah (Allah). Sedangkan zakat dan nafkah/sedekah mengandung kebaikan terhadap hamba Allah.

Maka kualitas kebahagiaan seorang hamba adalah tergantung keikhlasannya kepada Allah dan keluasannya dalam memberikan manfaat kepada orang lain. Sebaliknya penderitaan seseorang adalah ketika dua perkara ini yaitu ikhlas dan kebaikan untuk orang lain lenyap dari jiwanya”

[Taisiir ar-Rahmaan fiy Tafsiir Kalaam al-Mannaan, hal 29, penerbit Dar Ibnu Jauziy, Saudi Arabia]

Syaikh yang dermawan tadi begitu memahami dengan baik bahwa penuntut ilmu adalah salah satu pihak yang semestinya mendapat perhatian dalam masalah ini.

Dana, bagi para penuntut ilmu, mutlak diperlukan selama proses pembelajaran yang mereka lalui. Hal terbesar yang menjadi perhatian para penuntut ilmu dan sulit untuk mereka penuhi sendiri adalah keberadaan kitab-kitab yang merupakan lautan ilmu tak bertepi.

Begitu bijak dan indahnya jika mereka yang Allah limpahkan kekayaan memasukkan para penuntut ilmu dalam list yang menjadi daftar penerima infaq.

Beliau juga paham bahwa agar tak salah sasaran, salah satu karakter penuntut ilmu yang berhak mendapat perhatian ini adalah mereka yang menjadikan proses menuntut ilmu sebagai rutinitas utama. Dominan waktu mereka adalah untuk ilmu. Mereka berusaha menghafal Alqur’an, menghafal hadits, mempelajari bahasa arab, ilmu ushul dan kaidah ber-istinbat. Mereka terdidik atau mendidik diri sebagai penyambung lidah para ulama.

Akhirnya, begitu lengkapnya kebahagiaan para hamba yang diberikan rizki lebih dibanding yang lain. Dengan infaq (salah satuny -ed) yang mereka ulurkan untuk para penuntut ilmu, mereka telah melengkapi piranti-piranti takwa yang Allah senaraikan di awal-awal surat al-Baqarah:

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

“Yaitu mereka yang mengimani perkara ghaib, menegakkan shalat, menginfakkan sebagian dari apa yang Kami rizkikan.” (Al-Baqarah: 3)

Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan yang berlimpah hingga kita bersua di Firdaus-Nya, wahai syaikh. .

_____
Asrama Lipia Jakarta, penghujung Februari 2014 M

Copas dari akun fb Fachrian Almer Akiera

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *