Dalam risalahnya kepada al-Akh Hamd bin ‘AbdulAziz.

Setelah mengucapkan salam dan memuji Allaah. Berkata asy-Syaikh ‘AbdulLathif bin ‘Abdurrahmaan (1) rahimahullaah:

“Saya menasehati engkau untuk istiqamah di jalan Allaah dari fitnah kesyirikan ini. Fitnah yang diserap oleh hati kebanyakan manusia. Dan ingatlah perkataan al-Imaam ibnul Qayyim dalam Ighatsah-nya (2):
‘Dan tidak akan selamat seseorang dari syirik akbar, kecuali yang MEMUSUHI musyrikin di jalan Allaah, dan BER-TAQARRUB kepada Allaah dengan RASA BENCI tersebut…’
-selesai nukilan perkataan ibnul Qayyim rahimahullah- (3)
Maka, seseorang MEMBENCI kesyirikan dan MENCINTAI TAWHID, tetapi terdapat KESALAHAN padanya dari segi BARA’AH/BERLEPASDIRI dari ahli syirik. Dan MENINGGALKAN membangun wala’ kepada Ahli Tawhid dan membantu mereka. Maka jadilah dia sebagai seorang yang mengikuti hawa nafsunya.
Dan dia terjerumus kepada cabang-cabang kesyirikan yang menghancurkan agamanya dan apa yang telah dia bangun.
Dan dia meninggalkan tawhid, pondasinya maupun cabangnya.
Bersamaan itu, imannya yang dia cintai pun pergi.
Maka jadilah dia TIDAK MEMBENCI dan MENCINTAI karena Allaah. Tidak pula dia membangun walaa’ karena Allaah, dzat yang telah menciptakannya dan menyempurnakannya.Dan semua ini berasal dari SYAHADAT LAA ILAAHA ILLA ALLAAH. (4)

Maka janganlah tinggalkan peringatan ini di setiap majlis dan pertemuan.

[Ad-Durar as-Saniyyah. Juz 8: Bara’ah min Asy-Syirk]

Catatan Kaki

  1. Asy-Syaikh ‘AbdulLathif bin ‘Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin AbdilWahhab. Salah satu ‘ulama Najd. Penulis kitab “Minhaj at-Ta’sis”, yaitu bantahan terhadap syubhat “udzur bil jahl” atau “perbuatannya kufur, tapi orangnya tidak kafir” yang dibawa oleh Dawud bin Jirjis al-‘Iraqi. Memiliki saudara kandung yang juga seorang ‘ulama, yaitu asy-Syaikh Ishaq bin ‘Abdurrahman penulis “Hukm Takfir al-Mu’ayyan”, juga menjelaskan kekeliruan syubhat tersebut.
    Bisa disimak pelajaran “Hukm Takfir al-Mu’ayyan”:

    Terjemahan kitab: http://www.tauhidfirst.net/kitab-hukum-takfir-muayyan-syaikh-ishaq-lengkap/
    Penjelasan: https://app.box.com/s/r4v6yewzln54xkwwutwnm2atuxb5e81g
  2. Sepertinya asy-Syaikh disini menukilkan secara makna dari hafalannya. Adapun yang lebih masyhur tentang perkataan ini adalah berasal dari Kitab Madaarij as-Salikin. Dimana ibnul Qayyim berkata:
    وما نجا من شرك هذا الشرك الأكبر إلا من جرد توحيده لله وعادى المشركين في الله وتقرب بمقتهم إلى الله
    “Dan tidaklah selamat seseorang dari syirik akbar, kecuali yang memurnikan tawhid, memusuhi musyrikin di jalan Allaah, dan bertaqarrub kepada Allaah dengan rasa benci tersebut.”
  3. Nukilan ini juga membantah bahwa membangun al-Walaa’ wal-Baraa’ diatas “Laa ilaaha Illa Allaah” adalah ajarannya ‘Ulama Najd, karena ratusan tahun sebelumnya ibnul Qayyim telah mengatakan hal yang sama.
  4. Allaah Ta’ala berfirman:
    فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى
    “Barangsiapa yang kufur terhadap thaghut, dan beriman kepada Allaah, maka dia sungguh telah berpegang kepada tali yang kokoh”
    Dan Rasulullaah ‘alayhi shalaatu wa as-Salaam bersabda:
    أوثق عُرى الإيمان الموالاة في الله والمعاداة في الله، والحب في الله والبغض في الله
    “Tali keimanan yang paling kokoh adalah membangung al-Walaa’ dan al-Baraa’ karena Allaah. Mencintai karena Allaah dan membenci karena Allaah” (Silsilah ash-Shahihah)

    Dan para mufassir telah mendefinisikan “Tali keimanan yang kokoh”, dengan syahadat laa ilaaha illaa Allaah atau iman atau islam itu sendiri. Sebagaimana termaktub dalam tafsir ath-Thabari.
    Oleh karena itu asy-Syaikh Muhammad bin AbdilWahhab rahimahullaah mendefinisikan islam dengan:
    الاستسلام لله بالتوحيد والانقياد بالطاعة والبراءة من الشرك وأهله
    “Islam itu adalah berserah diri kepada Allaah dengan tawhid, tunduk dan patuh dalam ketaatan kepada-Nya, dan berlepas diri dari kesyirikan dan ahli syirik.”
    [Ushul ats-Tsalatsah]
    Sehingga jelas, bahwa memasukan al-Walaa wal-Baraa dalam definisi Islam dan kandungan syahadat adalah sesuatu yang berdasar dari al-Qur’an, as-Sunnah yang dipahami oleh para Salaf. Bukan sekedar karangan ‘ulama Najd.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *