Pertemuan bersama Al Allamah Abdul Aziz Ar-Rajihi seputar Ucapan-ucapan Irja’ Ar-Rays

21-8-1433 H 

 

Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada penghulu para nabi dan rasul, nabi kita Muhammad dan keluarganya dan para shahabatnya semua. Amma ba’du;

Ini adalah rekaman bersama Fadhilatu Syaikhina Al Allamah Abdul Aziz bin Abdillah Ar-Rajihi, semoga Allah menjaga dan meluruskan langkahnya. Tertanggal 21-8-1433 Hijriyah.

Pertanyaan: Wahai guru kami, semoga Allah berlaku baik kepadamu. Disana ada orang yang mengatakan barangsiapa terjatuh kepada syirik rububiyah atau uluhiyah atau asma’ was shifat tidak dikafirkan kecuali setelah terpenuhi syarat-syarat dan tidak terdapat penghalang.

Orang ini (juga) mengatakan: Tidak ada kekufuran secara lahir melainkan telah didahului oleh kufur secara batin.

Dan ia (juga) mengatakan: Ada sebagian ulama yang member udzur kepada orang yang mencaci Allah atau rasul, karena disebabkan kejahilan atau tarbiyah yang buruk atau kelalaian, maka ia tidak kafir.

Dan ia (juga) mengatakan: Tidak boleh takfir muayyan (meyakini person tertentu kafir) apabila orang itu meninggalkan salah satu dari rukun-rukun.

Dan ia (juga) berkata: Sesungguhnya musyrik dilebeli muwahhid selagi ia jahil.

Apa tanggapanmu terhadap orang ini? Semoga Allah berbuat baik kepadamu?

Asy-Syaikh: Ulangi perkara yang pertama!

Pertanyaan: Semoga Allah berbuat baik padamu. Disana ada orang yang mengatakan barangsiapa terjatuh kepada syirik rububiyah atau uluhiyah atau asma’ was shifat tidak dikafirkan kecuali setelah terpenuhi syarat-syarat dan tidak terdapat penghalang

 

Asy-Syaikh: Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada penghulu para nabi dan rasul, nabi kita Muhammad dan keluarganya dan para shahabatnya semua. Amma ba’du;

Sesungguhnya barangsiapa terjatuh kepada syirik rububiyah atau uluhiyah atau asma’ was shifat perkara ini ada rinciannya: Apabila (perkaranya) jelas dan tidak terdapat padanya kesamaran, maka ia kafir. Dan tidak perlu (melihat) kepada adanya syarat-syarat dan tidak terdapatnya penghalang (lagi). Karena syarat-syarat (sudah) ada. Barangsiapa mencaci Allah atau mencaci rasul atau mengolok-olok Allah atau kitab-Nya atau rasul-Nya maka ia kafir. Kita mohon keselamatan kepada Allah. Tidak perlu kepada hal lain.

Adapun jika terjadi pada perkara yang samar, (jika) ini yang ia bicarakan, atau ini yang dia ingkari, (yaitu) jika terjadi pada perkara yang halus samar dan orang sepertinya (pelaku) jahil akannya, maka orang ini tidak dikafirkan sampai dijelaskan dan (sampai) tegak padanya hujjah. Dan jika ia membangkang maka ia dikafirkan. Na’am.

 

Pertanyaan: Orang ini (juga) mengatakan: Tidak ada kekufuran secara lahir melainkan telah didahului oleh kufur secara batin

Asy-Syaikh: Ini pendapat Murji’ah dan ini pendapat batil. Karena (yang benar) kekafiran terjadi dengan hati (dengan keyakinan) dan terjadi dengan keraguan dan terjadi dengan ucapan. Seperti orang yang mencaci Allah atau mencaci Rasulullah atau mengolok-olok Allah atau kitab-Nya atau rasul-Nya atau menyeru selain Allah.

Dan kekufuran (juga) terjadi dengan perbuatan, seperti orang yang sujud kepada berhala, menyembelih untuk selain Allah.

Dan terjadi juga dengan penolakan dan meninggalkan. Seperti orang yang meninggalkan agama Islam tidak mau mempelajarinya dan tidak mau mengamalkannya.

Dan kekufuran (juga) terjadi dengan sangkaan. Seperti orang yang menyangka bahwa Allah tidak akan memenangkan agama-Nya, nabi-Nya dan bahwasanya Islam akan hilang lenyap sama sekali. Dan ini adalah sangkaan munafikin. Allah Ta’aala berfirman: Tetapi kamu menyangka bahwa Rasul dan orang-orang mu’min tidak sekali-kali akan kembali kepada keluarga mereka selama-lamanya dan syaitan telah menjadikan kamu memandang baik dalam hatimu persangkaan itu, dan kamu telah menyangka dengan sangkaan yang buruk dan kamu menjadi kaum yang binasa”. (QS. 48:12)

Kesimpulannya adalah: kekufuran terjadi dengan sebab ucapan, dengan sebab keyakinan, dengan sebab keraguan, dengan sebab perbuatan, dengan sebab penolakan, dengan sebab meninggalkan, dengan sebab sangkaan.

Adapun ucapan bahwa kekufuran tidak terjadi kecuali dengan hati, ini ucapan Murji’ah dan merupakan ucapan yang batil. Barangsiapa mengatakan kekufuran terjadi dengan hati dan iman dengan hati, ini batil. Yang benar bahwa kekufuran terjadi dengan hati, terjadi dengan lisan dan terjadi dengan anggota badan. Dan (sebaliknya) iman terjadi dengan hati, lisan dan anggota badan. Na’am.

Pertanyaan: Semoga Allah berbuat baik kepadamu. Orang ini mengatakan: Ada sebagian ulama yang memberi udzur kepada orang yang mencaci Allah atau rasul, karena disebabkan kejahilan atau tarbiyah yang buruk atau kelalaian, maka ia tidak kafir.

Asy-Syaikh: Ini batil. Perkara ini (mencaci Allah dstnya) tidak ada padanya kejahilan sama sekali. Perkara yang jelas. Barangsiapa mencaci Allah atau mencaci Rasulullah atau mencaci agama Islam atau memperolok Allah dan kitab-Nya maka ia kafir. Kita mohon kepada Allah keselamatan. Dan aku tidak mengetahui ada seorang pun mengatakan ini, bahwa orang ini diberi udzur. Aku tidak mengetahui seorang pun dari para ulama berpendapat diberi udzur kepada orang yang mencaci Allah atau mencaci Rasulullah atau memperolok Allah dan rasul-Nya dan kitab-Nya. Karena ini perkara-perkara yang jelas, dikenal darurat bagian dari agama. Jelas bagi siapa pun dan tidak ada kesamaran serta syubhat padanya. Na’am.

 

Pertanyaan: Semoga Allah berbuat baik kepadamu wahai guru kami. Ia (juga) mengatakan: Tidak boleh mengkafirkan orang yang meninggalkan salah satu dari rukun-rukun dengan alasan adanya khilaf dalam masalah ini.

Asy-Syaikh: Khilaf tidak! Khilaf bukan merupakan udzur, kecuali khilaf yang memiliki tempat untuk dibahas kembali. Adapun jika khilafnya lemah, maka tidak boleh dijadikan alasan. Sandaran (disini) adalah dalil. Apabila (seseorang) mengingkari perkara yang dikenal darurat bagian dari agama, maka ia dikafirkan tanpa khilaf. Akan tetapi jika dia memiliki syubhat maka harus dihilangkan syubhatnya atau ditegakkan hujjah kepadanya. Na’am.

 

Pertanyaan: Ucapan terakhir wahai guru kami dari orang yang terfitnah ini. Ia berkata: Sesungguhnya musyrik dilebeli dengan muwahhid selagi (kesyirikannya karena) ia jahil. Orang ini, semoga Allah berbuat baik kepadamu, namanya Abdul Aziz Ar-Rayyis admin dari situs Al Islam Al Atiq. Apa tanggapanmu?

Asy-Syaikh: Ini batil. Seorang musyrik tidak disebut muwahhid. Orang yang mengerjakan kesyirikan. Tapi orang ini dikatakan: perbuatannya syirik. Adapun orangnya, jika belum tegak padanya hujjah maka urusannya kembali kepada Allah. Tapi dia tidak disebut muwahhid, tidak didoakan, tidak dimintakan rahmat untuknya, tidak bersedekah untuknya. Urusannya kembali kepada Allah Azza wa Jalla.

Pertanyaan: Wahai guru kami, semoga Allah berbuat baik kepadamu. Apa nasihatmu kepada mereka yang menyebarkan bid’ah irja’ agar para pemuda berhati-hati dari mereka. Semoga Allah berbuat baik kepadamu.

Asy-Syaikh: Nasihatku kepada para pemuda agar belajar ilmu syar’i kepada ahli ilmu dan ulama yang memiliki bashirah yang mu’tabar. Dan tafaqquh dalam agama Allah serta belajar kepada ulama yang menjelaskan kepada mereka petunjuk-petunjuk Kitabullah dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bahwa iman terjadi dengan hati, lisan dan anggota badan. Dan bahwasanya kekufuran terjadi dengan hati, dengan lisan dan dengan anggota badan. Ini popular ditengah-tengah ulama. Adapun madzhab Murji’ah adalah madzhab yang batil. Dan irja’ bermacam-macam:

Jenis pertama: Murji’ah Jahmiyah. Yaitu orang-orang yang mengatakan bahwa iman adalah mengenal Allah dengan hati, dan kekufuran adalah jahilnya hati akan Allah. Dan ini adalah seburuk-buruk yang pernah ada dari definisi iman. Dan ini madzhab Jahm bin Shafwan dan madzhab Abul Hasan Ash-Shalihi dan kelompok Al Qadariyah. Dan lahir dari pemahaman ini, anggapan Iblis beriman, Fir’aun beriman, Yahudi beriman, Abu Thalib beriman. Karena mereka mengenali Rab mereka dengan hati-hati mereka.

Jenis kedua: Murji’ah Karramiah. Yaitu orang-orang yang mengatakan bahwa keimanan adalah melafalkan dengan lisan. Apabila seseorang mengucapkan dengan lisannya dua kalimat syahadat maka dia beriman, walaupun hatinya mendustakan. Dan mereka mengatakan: Orang seperti ini kekal di neraka. Mereka ini menggabungkan dua perkara yang bertolak belakang. Apabila mengucapkan dengan lisannya (dua kalimat syahadat) ia mukmin yang sempurna imannya. Dan apabila mendustakan dengan hatinya, maka ia kekal di neraka! Sehingga mereka menggabungkan dua perkara yang bersebrangan. Orang itu beriman dan imannya sempurna (tapi) kekal di neraka!

Jenis ketiga: Murji’ah Asy’ariyah Maturidiyah yang mengatakan: Bahwa iman adalah pembenaran dengan hati. Dan ini merupakan riwayat dari Al Imam Abu Hanifah. Syaikhul Islam Rahimahullah berkata: Sulit memisahkan antara sekedar pembenaran dengan pengenalan yang merupakan madzhab Jahm bin Shafwan.

Jenis keempat: Murjiah Fuqaha’, Abu Hanifah dan murid-muridnya. Dan mereka adalah kelompok dari Ahlussunnah. Mereka mengatakan: Iman ada dua, pembenaran dengan hati dan ucapan lisan. Adapun amalan, diminta. Tapi bukan termasuk iman. Maka manusia (menurut mereka) memiliki dua kewajiban: Kewajiban iman dan kewajiban beramal. Mereka ini kelompok (sendiri) dari Ahlussunnah. Akan tetapi mereka menyelisihi mayoritas Ahlussunnah karena tidak memasukkan amalan ke dalam penyebutan iman. Padahal nash-nash menunjukkan hal itu.

Maka yang wajib atas setiap muslim untuk beradab dengan nash-nash. Tidak menyelisihi nash-nash, baik lafal maupun maknanya. Mayoritas Ahlussunnah mengatakan: Iman terdiri dari 4 hal: Pembenaran dengan hati, yaitu pengakuan dan pengikraran hati. (Kedua) amalan hati, yaitu niat dan keikhlasan. (Ketiga) melafalkan dengan lisan dan (keempat) mengamalkan dengan anggota badan.

Oleh karena itu Ahlussunnah mengatakan, iman adalah: ucapan dan perbuatan. Ucapan ada dua: ucapan hati dan ucapan lisan. Dan amal ada dua: amalan hati dan amalan anggota badan. Dan diantara mereka ada yang mengatakan: Iman adalah ucapan dan amalan dan niat. Dan diantara mereka ada yang mengatakan: Iman adalah ucapan dan amalan dan niat dan sunnah. Ini merupakan madzhab mayoritas ulama dan madzhab muhadditsin (ahli hadits). Dan inilah yang ditegaskan oleh para ulama. Maka yang wajib bagi seorang muslim untuk memiliki bashirah dan tafaqquh dalam syariat Allah dan mengamalkan nash-nash Al Kitab dan As-Sunnah dengan pemahaman ulama salafus-shalih dari para shahabat, tabi’in dan orang-orang setelah mereka.

 

Mayoritas Ahlussunnah berpendapat bahwa iman adalah: ucapan dengan lisan dan keyakinan dengan hati dan amalan dengan anggota badan. Bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.

Kita minta kepada Allah untuk semua hidayah-Nya, bimbingan-Nya dan kekokohan di atas agama-Nya dan istiqamah di atasnya dan bashirah dalam agama-Nya. Sesungguhnya Dia penolong dalam hal ini dan Maha Sanggup. Shalawat Allah dan salam dan keberkatan semoga tercurah kepada hamba dan utusan-Nya nabi kita Muhammad dan keluarganya dan para shahabatnya dan para tabi’in.

Pertanyaan: Wahai guru kami, semoga Allah berbuat baik kepadamu. Aku teringat satu pertanyaan, yaitu: Turki Al Hamd berkata –kita mohon perlindungan Allah-: Sesungguhnya Allah dan syaithan adalah dua wajah untuk satu mata uang. Dan Engkau miskin wahai Allah! Lalu orang yang sedang kita bincangkan ini muncul (Ar-Rayis) dan berkata: Ucapan ini mengandung kemungkinan kekufuran dan bukan kekufuran. Dan aku nasihatkan pemuda untuk tidak mengkafirkan orang yang terang-terangan mengatakan –kita mohon kepada Allah perlindungan- : Sesungguhnya Allah dan syaithan adalah dua wajah untuk satu mata uang. Apa tanggapanmu wahai guru kami terhadap Ar-Rayis ini?

Asy-Syaikh: Tidak diragukan bahwa ucapan-ucapan ini adalah kufur. Fadhilatus-Syaikh Abdul Muhsin Al Badr, semoga Allah memberi kepadanya taufik, telah menjelaskan pada bantahannya kepada orang ini, bahwa dia zindiq dan bahwa ucapan-ucapan ini kufur. Kita mohon kepada-Nya keselamatan. Dan ucapan bahwa perkataan ini mengandung berbagai kemungkinan, adalah perkataan yang batil. (Yang benar) ini adalah ucapan kufur. Kita mohon kepada-Nya keselamatan. Dan kita mohon untuknya hidayah. Dan kita mohon agar Allah melindungi kami dan kalian dari fitnah-fitnah dan mengokohkan kita diatas agama-Nya.

Pertanyaan: Semoga Allah berbuat baik kepadamu wahai guru kami dan membalasmu dengan kebaikan atas kelapangan hatimu dan keluanganmu menjawab pertanyaan-pertanyaan.

Transkrip arabic: Abu Abdillah Yusuf

Alih Bahasa: Jafar Salih

http://safeshare.tv/w/QjVHmapfxY

http://aliman1.blogspot.com/2013/05/blog-post_30.html

Lihat takfir muayyan terhadap Turki Al Hamad oleh Asy-Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr

http://www.al-abbaad.com/index.php/articles/127-1435-11-09

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *