Beliau rahimahullaah merupakan salah satu ‘ulama Najd yang masyhur.

Pada masa-nya terbilang adalah masa dimana da’wah tawhid telah tersebar, dan yang menjadi puncak keilmuan pada saat itu adalah asy-Syaikh ‘Abdurrahmaan bin Hasan, penulis Fathul Majid.
Beliau pun termasuk murid seniornya asy-Syaikh ‘Abdurrahmaan bin Hasan, dimana asy-Syaikh Hamd bermajlis dengannya sekian tahun di Riyadh.

Berikut wasiat-nya yang dia tinggalkan bagi generasi yang akan datang setelahnya:

“Aku nasihatkan mereka dengan apa yang telah dinasihatkan oleh Ibraahim dan Ya’quub kepada keturunannya:
يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
“Wahai anak-anak ku, sesungguhnya Allaah telah memilih agama ini untuk kalian. Maka janganlah kalian mati, kecuali kalian sebagai orang-orang Muslim”
[Al-Baqarah:132]

Sesungguhnya agama ini, yang Allaah telah menjadikannya terang di Najd melalui asy-Syaikh Muhammad bin ‘AbdilWahhab, merupakan agamanya para Rasul. Dari awalnya sampai akhirnya. Agama yang memurnikan ibadah kepada Allaah semata, mengikuti Nabi-Nya ‘alayhi ash-Shalatu wassalaam dalam perkara pokok agama maupun cabangnya dan senantiasa berada dalam jama’ah kaum Muslimin. Mendengar dan taat kepada pemimpin-pemimpin Muslimin, selama mereka tidak murtad. Apabila ada penyeru kesesatan di tengah-tengah mereka, maka perlindungan adalah dengan mencanangkan permusuhan di jalan Allaah, bagaimanapun keadaannya.

Aku juga menasehati mereka untuk semangat dalam mencari makan yang halal, untuk jujur dalam bertutur-kata dan mempunyai niat yang baik dalam ber-mu’amalah kepada Allaah Al-Kabiir Al-Muta’aal.

Aku juga menasehati mereka untuk terus semangat dalam mempelajari ‘ilmu yang bermanfaat dari al-Qur’an dan al-Hadits. Dan ilmu yang bermanfaat inilah merupakan warisan dari Rasulullaah shallAllaahu ‘alayhi wasallam.

Aku juga menasehati mereka agar berhati-hati dari dunia dan tertipu di dalamnya, karena sesungguhnya dunia itu penuh tipu daya dan kebohongan.

Dan persiapkan untuk menghadapi kematian dan apa-apa yang akan terjadi setelahnya, karena apa yang akan terjadi setelah kematian, itu lebih berat dari kematian itu sendiri.

Allaah lah yang Maha Penolong, dan hanya kepada Dia lah kita mengadu.
Dan tidak ada daya dan kekuatan, kecuali milik Allaah yang Maha Agung.”

[‘Ulamaa Najd. asy-Syaikh Aalu-Bassam] 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *